LINTANG PUN TAK HARUS BERHENTI SEKOLAH
Oleh: Fajar Marendra
Ibunda guru,
Ayahku meninggal, besok aku akan ke sekolah
Salamku, Lintang
Itulah sepenggal surat yang ditulis oleh Lintang sang anak pesisir, salah satu bagian dari laskar pelangi kumpulan anak-anak pedalaman Belitong yang diceritakan secara apik oleh Andrea Hirata dalam novelnya yang berjudul “Laskar Pelangi”. Terlihat jelas dalam surat yang dia tulis bagaimana keadaan yang menimpanya sehingga dia memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya guna menghidupi adik-adiknya yang masih kecil sepeninggal ayahnya yang tak ada kabar begitu lama setelah bapaknya pamitan untuk mencari ikan di laut.
Itulah siluet kehidupan yang berhasil ditangkap oleh Andrea Hirata yang kemudian diceritakan secara menarik dan menggelitik guna sebuah tujuan mengkritik tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Setidaknya itulah salah satu hal yang bisa saya simpulkan setelah membaca, merenung dan menganalis novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata.
Walau cerita yang diangkat berlatar belakang Belitong, namun cukup untuk memberikan gambaran daerah-daerah pedalaman lain di pelosok Indonesia yang keadaannya sebelas duabelas dengan daerah Belitong bahkan ada yang lebih parah keadaannya bila dibandingkan daerah Belitong. Sebagai seorang yang “peka” terhadap keadaan orang-orang disekitarnya, sudah sepantasnya kita memberikan perharian lebih terhadap nasib orang-orang yang berada di pedalaman khususnya dalam bidang pendidikan.
Keadaan pendidikan di daerah pedalaman bolehlah untuk dikatakan jauh dari ideal, dan sangat berbeda dengan keadaan pendidikan di daerah perkotaan. Permasalahan-permasalahan seperti insfrastruktur yang sudah tak layak huni, fasilitas yang jauh dari istilah lengkap, kekurangan tenaga pengajar, gaji guru yang sering tertunda atau bahkan tak terbayarkan, merupakan makanan setiap hari bagi civitas akademika di daerah pedalaman.
Selain infrastruktur yang banyak yang sudah tidak layak huni, sekolah-sekolah yang didirikan di daerah pedalaman tidaklah sebanyak sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan karena beberapa factor seperti keadaan medan lingkungannya, maupun kultur yang ada didaerah yang dimaksud. Tak jarang sekolah yang ada disana berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah tempat tinggal para siswa sehingga menyebabkan orang tua siswa enggan untuk menyekolahkan putra-putri mereka dengan alasan tempatnya jauh yang tentu saja membuat pengeluaran keluarga akan meningkat untuk membiayai biaya transportasi putra-putri mereka ke sekolah.
Berbagai masalah yang timbul ini bukanlah sebuah hal yang baru bagi kita semua karena hal ini telah diangkat oleh berbagai macam media dan lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah serta sudah menjadi rahasia umum. Jadi bukan sebuah fokusan utama lagi untuk menunjukkan fakta-fakta yang ada tentang pendidikan di daerah pedalaman namun yang lebih utama untuk kita bicarakan dan persiapankan dengan matang ialah peran yang akan kita ambil dalam upaya untuk meminimalisasi masalah pendidikan yang timbul di daerah pedalaman.
Dari tadi dibicarakan mengenai wilayah pedalaman-wilayah pedalaman. Mengapa kita harus memperhatikan wilayah perdalaman ini? Terdapat beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan itu diantaranya ialah: Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki banyak sekali daerah pedalaman baik yang sedikit tersentuh pembangunan maupun belum tersentuh sama sekali. Daerah perbatasan, desa-desa yang berada di tengan hutan dan pegunungan, pulau-pulau kecil yang berserakan di perairan Indonesia merupaka daerah pedalaman yangn dimaksud, daerah pedalaman merupkan daerah yang rawan akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut hal kenegaraan, bila tidak adanya control terhadap daerah ini maka kedaulatan negara ini akan dipertanyakan. Salah satu control efektif yang bisa dilakukan ialah dengan memberdayakan masyarakat pedalaman dengan melengkapi mereka dengan pendidikan yang efektif dan progresif. Dan yang terakhir ialah perhatian yang merata terhadap Warga Negara Indonesia akan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kecenderungan untuk bersama-sama membawa Indonesia menjadi negara yang maju dalam berbagai bidang kehidupan karena kita memiliki potensi yang besar untuk menjadi demikian.
Secara sepintas mungkin penjelasan di atas menunjukkan bahwa semua hal ini berhubungan dengan kenegaraan yang otomatis mengarah pada kewajiban dari satu sosok yaitu Pemerintah. Benar sekali hal itu, ini merupakan kewajiban pemerintah untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang mumpuni sehingga kedepannya mereka bisa berkonstribusi dengan lebih baik lagi. Timbullah pertanyaan mengapa sampai sekarang isu ini masih ada dan berlanjut serta sering dijadikan tema oleh para sineas dalam karya-karya mereka seperti “laskar Pelangi”, “Indonesia Tanah Air Beta”, dll. Kemudian apakah pemerintah tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah ini?
Janganlah kita menyalahkan pemerintah atau berprasangka buruk terhadapnya. Penyelesaian dari masalah ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses yang panjang, berkelanjutan dan bantuan dari semua pihak. Ingat!!!! Bantuan dari semua pihak. Maka disini peran dari bagian-bagian dari negara ini memiliki andil yang besar bagi percepatan proses ini. Kalau dalam reaksi kimia, katalisator dari proses ini adalah peran aktif dari organ-organ negara ini.
Peran dari siapa dan peran seperti apa? Itulah yang akan dibicarakan berikutnya. Salah satu organ negara ini yang memiliki potensi besar untuk membantu percepatan proses ini adalah operator telekomunikasi. Merujuk data Wireless Intelligent, pengguna selular di Indonesia mencapai 116.144.392 orang. Sementara, data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang. Padahal, tingkat kepemilikan komputer hanya 2,5 juta orang. Meski internet juga diakses lewat jasa warnet (Warung internet), namun bisa diasumsikan bahwa dari 25 juta orang itu, jumlah pengguna selular menyumbang jumlah yang tak sedikit. Yang mengejutkan, jauh dari perkiraan Internet World Stats, InMobi memprediksi jumlah pengguna internet selular di Indonesia pada akhir 2010 akan mencapai 146 juta orang. Dengan pangsa pasar yang besar dan pelanggan yang banyak maka operator telekomunikasi memiliki potensi besar untuk mempercepat proses pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat, baik dengan cara memasukkan konten pendidikan dalam setiap produknya atau pengalokasian dana sebagai sebuah tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat khususnya masyarakat pedalama ataupu dengan cara yang lain. Yang perlu diperhatikan disini adalah peran apakah yang akan dipilih oleh operator telekomunikasi guna menjadi katalisator proses pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat.
Akan dibicarakan dua peran yang bisa dipilih oleh operator telekomunikasi dalam tulisan ini serta satu masukan untuk operator telekomunikasi. Dua peran yang cukup simpel dan sederhana namun bila dijalankan secara serius akan memberikan dampak yang positif untuk percepatan prose pembedayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat. Serta masukan yang semoga bisa dipertimbangkan untuk percepatan proses tersebut.
Peran penyandang dana Utama
Peran ini muncul sebagai konsekuensi logis atas keberhasilan operator telekomunikasi di Indonesia mendapatkan pelanggan yang sangat banyak. Hal ini tentu berimbas pada kenaikan benefit yang didapatkan oleh operator telekomunikasi. Sebagai sebuah perusahaan yang telah mendapat keuntungan yang cukup banyak dari bidang usahanya maka sudah sewajarnya untuk memberikan tanggung jawab sosial ke masyarakat selaku konsumen dari usaha mereka.
Peran penyandang dana ini menempatkan Operator Telekomunikasi sebagai lembaga yang menyediakan dana untuk pengembangan pendidikan di daerah pedalaman. Hanya sebatas sebagai lembaga yang punya dana, mengenai jalannya teknis diserahkan kepada pemerintah daerah atau instansi terkait yang berhubungan langsung dengan masyarakat di daerah pedalaman.
Peran ini memiliki kelebihan bagi Operator Telekomunikasi karena dengan menjalankan peran ini Operator Telekomunikasi tidak perlu memikirkan perjalanan jangka panjangnya dari program yang dijalankan karena pelaksana lapangan ialah pemerintah daerah atau instansi terkait. Pihak Operator Telekomunikasi hanya menerima laporan atas pemakaian dana yang telah disalurkan. Butuh rasa saling percaya dalam program ini antara penyandang dana dengan pelaksana lapangan. Selain itu Operator Telekomunikasi memiliki kemudahan terhadap laporan keuangan karena tidak perlu memberikan laporan ke pihak penyndang dana lain.
Ketidaknyamanan dari peran ini adalah ada kemungkinan terjadinya mark up atau ketidakjujuran pengalokasian dana yang disalurkan sehingga menyebabkan tujuan yang ingin dicapai tidak terwujud sesuai target yang ingin diraih.
Untuk asal dana yang disalurkan dalam peran ini merupakan dana perusahaan dari Operator Telekomunikasi sepenuhnya, tidak termasuk dana dari pihak lain. Maka memang dibutuhkan perusahaan yang besar dan kuat untuk menjalankan peran ini.
Peran Penyandang dan pengelola dana
Sedangkan peran yang kedua ini memungkinkan Operator Telekomunikasi untuk mengajak instansi lain menghimpun dana yang dimiliki yang kemudian akan dikelola secara mandiri oleh pihak Operator telekomunikasi guna pengembangan pendidikan di daerah pedalaman.
Operator Telekomunikasi akan mengelola dana yang terkumpul secara mandiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk masyarakat pedalaman namun tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atau pihak yang berwenang di daerah yang dimaksud. Namun peran dari pemerintah daerah atau pihak berwenang di daerah yang dimaksud hanyalah sebagai penghubung antara Operator Telekomunikasi dengan masyarakat.
Keuntungan dari peran ini adalah Operator Telekomunikasi bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat yang merupakan pelanggan mereka, pengawasan aliran dana mudah, pengawasan terhadap kinerja dilapangan bisa dilakukan dengan lebih mudah
Namun peran ini memiliki tantangan yaitu menuntut Operator Telekomunikasi untuk memikirkan dalam jangka panjang program yang akan dilaksanakan dan harus bertanggungjawab kepada penyandang dana yang lain
Berkelanjutan
Sebenarnya peran yang bisa diambil masih banyak, namun penjelasan dalam tulisan ini hanya terfokus pada dua peran ini karena dianggap peran ini yang cukup mudah untuk dilakukan. Namun apapun peran yang akan dipilih harapannya memberikan efek yang berkelanjutan terhadap masyarakat pedalaman, tidak hanya dalam jangka waktu tertentu saja atau temporary.
Program yang dijalankan haruslah program yang berjangka panjang dan berkelanjutan karena pendidikan merupakan suatu proses yang membutuhkan jangka waktu panjang dan pengawasan yang tidak main-main kalau ingin mendapatkan output yang baik.
Konsep sekolah islam terpadu mungkin bisa dijadikan gambaran menangani sebuah program pendidikan yang berkelanjutan, dimana disana para siswa dibentuk dengan kurikulum yang konfrehensif dan menyeluruh mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Untuk sekadar masukkan, Operator Telekomunikasi bisa memulai membuat proyek desa mandiri teknologi informasi dan komunikasi dimana di desa tersebut kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi yang disinergikan dengan dunia pendidikan.
Pemenuhan pendidikan dapat dilakukan mulai dari tingkat dasar (Sekolah Dasar) sampai tingkat perguruan tinggi dengan obyek yang sama tanpa berpindah-pindah pada obyek yang lain. Sehingga bila generasi yang sudah dibentuk ini memiliki kemampuan yang mumpuni mereka dikirim pulang kemabali ke desa mandiri teknologi informasi dan komunikasi yang telah didirikan.
***
Yang ingin disampaikan disini ialah Operator Seluler selaku organ dalam negara ini memiliki peran yang sangat krusial dalam pengembangan pendidikan di daerah pedalaman. Saatnya semua bahu membahu untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan harum di dunia internasional karena ketika bila suatu bangsa memiliki SDM yang handal maka bangsa itu akan menjadi bangsa yang besar. Sumber Daya Manusia yang handal lahir dari pendidikan yang komprehensif dan berkelanjutan. Mari kita dukung usaha pemerintah dan Operator Telekomunikasi untuk memajukan masyarakat pedalaman melalui pendidikan. Kita saksikan aksi dari Operator Telekomunikasi dalam membangun bangsa ini.
Fajar Marendra
Penulis merupakan ketua bidang pendidikan
Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia 2009/2010
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Kamis, 30 Desember 2010
Senin, 27 Desember 2010
AGRESI OPSEL DI PERBATASAN INDONESIA
Oleh: Fajar Marendra
Indonesia, salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, terkenal sebagai zamrud khatulistiwa dengan wilayahnya yang sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Talaud dan kandungan sumber daya alam yang melimpah disetiap jengkal wilayahnya menjanjikan sebuah harapan akan kesejahteraan yang memadai untuk orang-orang di dalamnya secara keseluruhan maupun bagi orang-orang yang berada disekitarnya.
Namun telah menjadi rahasia umum, negeri yang begitu besar potensinya ternyata masih belum bisa menjamin kesejahteraan bagi masyarakat di dalamnya secara optimal, terbukti dari adanya kesenjangan secara ekonomi antara daerah satu dengan daerah yang lain, terutama daerah-daerah perbatasan di Indonesia. Tentu kita masih ingat beberapa kasus yang menimpa daerah perbatasan kita,seperti pulau Sipadan dan Ligitan, Blok Ambalat, perbatasan antara NTT dengan Timoer Leste. Hal itu hanyalah sebagian kecil dari masalah-masalah yang timbul di daerah perbatasan yang sering tak kita perhatikan karena memang mereka berada jauh sekali dari tempat kita berdiri sekarang, kalaupun kita memperhatikan mereka hanyalah karena kita latah saat timbul masalah disana, selebihnya kita tak pernah menghiraukannya.
Pernyataan di atas bukanlah sebuah justifikasi bahwa masalah-masalah yang timbul di perbatasan merupakan kesalahan dari satu pihak. Titik tekan dari hal yang dikemukakan diatas ialah mengenai bagaimana cara meminimalisasi atau menyelesaikan masalah yang telah timbul ini. Kita harus dapat menemukan akar dari masalah ini untuk kemudian kita selesaikan dengan berbagai kemungkinan yang bisa kita lakukan sehingga kedepannya, Bangsa Indonesia akan semakin menjadi bangsa yang besar di dunia.
Perlu dipahamkan disini, bahwa keberadaan dari wilayah perbatasan merupakan hal yang sangat urgen untuk diperhatikan oleh sebuah negara karena berhubungan dengan kedaulatan negara dan keberlangsungan hidup dari negara itu sendiri. Mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan memiliki daerah terluar yang berbatasan langsung dengan banyak negara tetangga maka sudah sewajarnya bila Indonesia memberikan space khusus untuk pengelolaan daerah perbatasan. Hal ini bukanlah semata-mata peran pemerintah selaku penyelenggara negara namun juga pihak-pihak yang secara kemampuan berpotensi untuk turut ambil bagian dalam pengelolaan daerah perbatasan ini. Salah satu pihak yang sangat berpotensi besar dan akan memberikan sumbangsih yang signifikan ialah OPSEL (Operator Seluler) atau biasa dikenal dengan operator telekomunikasi, namun agar lebih enak kita memperbincangkanya maka untuk selanjutnya kita akan memakai istilah OPSEL, yang sekarang sedang menimbang-nimbang untuk meluaskan pangsa pasarnya di daerah perbatasan Indonesia melalui agresi OPSEL.
Untuk mengetahui alasan dan sejauh mana agresi OPSEL berperan dalam pengelolaan daerah perbatasan, maka saya mengikuti sebuah alur dari metode analisis sosial yang sempat saya dapatkan dalam sebuah training, walaupun tidak sepenuhnya namun cukup untuk memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara pengelolaan daerah perbatasan dengan agresi OPSEL. Keterkaitan ini akan disajikan dalam beberapa bagian yang kemudian menyatu dan berpadu menbentuk sebuah alur yang dinamik dan artistik. Akar masalah timbul, momen agresi yang tepat, tantangan di depan mata, dukungan kekuatan, saatnya bergerak cepat, merupakan bagian-bagian yang menarik untuk menggambarkan keterkaitan antara keduanya.
Akar masalah timbul
Sebenarnya apakah yang menjadi akar permasalahan dari terjadinya berbagai hal yang menyangkut daerah perbatasan ini? Mungkin sebagian dari kita sudah tahu, hanya satu kata dan terdiri dari sepuluh huruf, KOMUNIKASI.
Komunikasi yang bagaimana? Timbul sebuah alur komunikasi yang tidak efektif antara daerah perbatasan dengan pemerintah pusat, keluhan-keluhan, kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat perbatasan jarang yang sampai ke pemerintah pusat dalam keadaan utuh, bahkan tak jarang aspirasi mereka tak pernah sampai ke pemerintah pusat. Sementara pemerintah pusat yang notabene tidak mengetahui secara langsung keadaan yang sebenarnya di daerah perbatasan, menganggap tidak terjadi masalah di daerah perbatasan karena tidak adanya laporan yang masuk ke pemerintah pusat. Ini merupakan contoh kecil dari akar masalah yang disebutkan.
Komunikasi merupakan kebutuhan primer keempat setelah sandang, pangan, papan disadari atau tidak. Dengan dan dalam komunikasi, dunia makna terbentuk, gagasan lahir, inspirasi muncul dan perubahan demi perubahan berlangsung. Komunikasi lah yang mengutuhkan kelayakan hidup manusia sebagai makhluk sosial dan individual. Apabila kebutuhan akan komunikasi ini tidak terpenuhi secara proporsional maka otomatis akan menimbulkan dampak social yang tidak kecil efeknya bagi masyarakat itu sendiri
Secara tidak langsung dalam blognya Ahmad Musthofa Haroen menyatakan bahwa kesenjangan yang terjadi antara daerah perbatasan dengan pemeruntah pusat merupakan
“akibat dari ketiadaan dialog. Kesulitan melakukan dialog disebabkan adanya jarak psikologis, wilayah, waktu, atau kombinasi ketiganya. Dialog baru bisa terjadi jika ada mediasi. Di situ, identitas-identitas berhadapan bukan untuk saling dipertentangkan, tapi belajar untuk saling memahami. Dalam konteks yang lebih luas, berbagai konflik identitas yang terjadi di Indonesia antara lain disebabkan kurangnya kesediaan membangun komunikasi yang intim dan hangat. Dalam konteks seperti ini, konvergensi selular memainkan peran penting. Jurang pemisah antar daerah, antar suku, dan antar agama kini sangat bisa didekatkan melalui konvergensi dan aksesibilitas selular. Dua atau lebih pihak semakin mungkin untuk saling belajar dan memahami dari sumber-sumber informasi yang terkait”
Melihat penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan bahwa memang KOMUNIKASI-lah yang menjadi akar masalah dari berbagai macam hal yang timbul di di daerah perbatasan. Pulau Sipadan dan Ligitan tak akan lepas dari kita andai kita menjaga komunikasi yang intim dan hangat dengan orang-orang yang ada disana, itulah yang mungkin dilakukan negara tetangga kita terhadap masyrakat kedua pulau itu sehingga akhirnya mereka memang merasa bagian dari negara tetangga kita itu, terlepas dari masalah teritori dll.
Hal itu lah yang menyebabkan agresi OPSEL mendapat bagian di sini karena memang KOMUNIKASI merupakan senjata utama OPSEL untuk menjalankan agresinya.
Momen agresi yang tepat
Agresi yang dilakukan oleh OPSEL di Perbatasan Indonesia melalui pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi bila dilakukan saat-saat sekarang merupakan momen yang tepat. Dikatakan tepat karena saat ini kebutuhan akan hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi sangat banyak dan memiliki kecenderungan yang terus meningkat setiap tahun. Data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang. Padahal, tingkat kepemilikan komputer hanya 2,5 juta orang. Meski internet juga diakses lewat jasa warnet (Warung internet), namun bisa diasumsikan bahwa dari 25 juta orang itu, jumlah pengguna selular menyumbang jumlah yang tak sedikit. Yang mengejutkan, jauh dari perkiraan Internet World Stats, InMobi memprediksi jumlah pengguna internet selular di Indonesia pada akhir 2010 akan mencapai 146 juta orang. Apakah benar prediksi dari InMobi ini, silahkan melakukan perhitungan sendiri.
Daerah perbatasan yang selama ini seakan-akan dianaktirikan ternyata merupakan pangsa pasar yang potensial. Wilayah Indonesia yang luas dengan wilayah perbatasannya menuntut sebuah sistem yang bisa mengakomodasi kebutuhan komunikasi antara daerah perbatasan dan pemerintah selaku penentu kebijakan. Komunikasi disini meliputi masalah pertahanan keamanan, perdagangan, jasa, diplomatik dll yang berhubungan langsung dengan kebutuhan orang banyak. Belum adanya pihak yang secara khusus dan fokus dalam pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi merupakan hal-hal yang memantapkan pergerakan dari agresi OPSEL ini.
Melihat kenyataan yang ada dewasa ini bahwa kemampuan jaringan dari OPSEL memang belum mencakup semua daerah terbukti pada daerah-daerah tertentu masih ditemukan spot-spot yang tidak ada sinyal, apalagi di daerah perbatasan yang biasanya berada di daerah-daerah pedalaman, ditengah hutan, atau di kepulauan padahal disana terdapat cukup banyak masyarakat yang haus akan kebutuhan komunikasi. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa wilayah agresi yang bisa digunakan sebagai pangsa pasar masih cukup banyak dan terbuka lebar untuk diperluas. Tentu dengan sebuah keberanian yang cukup dari Operator telekomunikasi yang ada di Indonesia untuk menerima tantangan ini maka operator telekomunikasi ini akan menjadi operator telekomunikasi yang besar karena efek dari serius dalam pengelolaan daerah perbatasan ini bersifat berantai. Satu hal akan menimbulkan hal yang lain,begitu seterusnya.
Maka benarlah jika dikatakan sekarang adalah momen yang pas untuk menunjukkan eksistensi operator telekomunikasi dan wujud cinta tanah air dalam menjaga kedaulatan Indonesia melalui pemberdayaan daerah perbatasan.
Tantangan di depan mata
Bukan tanpa alasan mengapa sampai saat ini masih terdapat daerah-daerah yang belum tersentuh jaringan telekomunikasi milik operator telekomunikasi. Hal ini terjadi karena memang biaya yang harus ditanggung oleh pihak operator telekomunikasi untuk membangun jaringan dan menyediakan layanan jasa di daerah perbatasan tidaklah sedikit, bahkan lebih murah bila membangun di daerah pekotaan atau pinggiran kota. Membangun jaringan di daerah perbatasan cukup sulit karena menyangkut akses menuju daerah itu, tenaga kerja yang tersedia, bahan-bahan yang tersedia dll yang apabila tidak dipikirkan secara matang, yang didapatkan bukan keuntungan seperti yang didambakan melainkan kerugian yang besar.
Inilah yang harus dijawab oleh para operator telekomunikasi. Sebuah tantangan yang apabila berhasil diatasi kesuksesan yang besar akan diraih. Nampaknya telah ada beberapa operator telekomunikasi yang mencoba menjawab tantangan ini dengan membangun banyak jaringan di wilayah Indonesia. Walaupun belum dilaksanakan secara menyuluruh di wilayah Indonesia namun paling tidak sudah terdapat OPSEL yang berusaha mendekat kea rah yang dimaksud.
Dari hal diatas membuktikan bahwa masih banyak pangsa pasar potensial yang belum dikelola secara menyeluruh yang berarti merupakan sebuah kesempatan bagi OPSEL-OPSEL yang lain di Indonesia. Semakin banyak OPSEL yang sadar akan strategi ini maka selain OPSEL-OPSEL itu yang mendapat untung masyarakatlah yang akan mendapat keuntungan yang signifikan karena semakin banyak pilihan sehingga masyarakat dapat memilih mana yang lebih baik dan cocok untuk kebutuhannya.
Tantangan harus segera dijawab dengan suatu tindakan nyata “AGRESI OSPEL DI PERBATASAN INDONESIA” karena tindakan ini akan memberikan efek domino kepada kegiatan masyarakat. Semakin berkembang masyarakat maka kebutuhan akan kemunikasi akan semakin besar dan besar. Hal ini tentu menguntungkan OPSEL selaku pengelola komunikasi.
Dengan menjalankan tindakan ini maka OPSEL telah membantu masyarakat untuk membentuk jurnalisme warga. Jurnalisme warga penting artinya karena tidak setiap peristiwa yang bernilai publik bisa dijangkau oleh kerja jurnalis profesional. Jurnalisme warga merentang luas dari sisi verbal, audio, dan visual. Pokoknya, tiap kali menjumpai sebuah peristiwa yang layak untuk diketahui publik, anda berkesempatan menjadi jurnalis-warga—siapapun dan apapun latar belakang anda.
Walaupun secara faktual kebutuhan akan jaringan komunikasi di daerah perbatasan untuk saat ini berada pada level yang tinggi, hal ini tidak lantas membuat OPSEL memiliki keleluasaan untuk dengan seenaknya membangun jaringan pada suatu daerah. Mereka harus tetap melakukan koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait, terutama dengan masyarakat yang ada disana,yang merupakan pangsa pasar dari OPSEL itu sendiri, mereka harus bisa memahami kultur yang ada dalam masyarakat yang tentu saja berbeda dengan kultur masyarakat perkotaan. Disini diperlukan kepekaan yang tinggi untuk masuk dalam struktur kemasyarakatan yang ada. Sebuah tantangan tambahan bagi operator telekomunikasi.
Dukungan kekuatan
Saya kira semua setuju kalau dikatakan bahwa perkembangan industri seluler atau telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini bahkan patut untuk dijadikan sebuah babak penting dalam sejarah Indonesia. Hal itu terjadi karena beberapa hal, diantaranya disadari atau tidak industri seluler telah mengubah dan memperbarui pola-pola kemunikasi dan informasi yang berkembang di masyarakat. Problem jarak dan waktu yang ada dalam pola komunikasi tradisional telah dimudahkan dengan komunikasi selular. Perlu diketahui bahwa bila suatu system komunikasi berjalan dengan baik maka akan berdampak positif pada aspek-aspek kehidupan yang lebih luas karena memang komunikasi merupakan hal utama menyangkut hubungan antara satu orang dangan orang lain. Jumlah pelanggan seluler yang mencapai angka fantastis menjadi hal berikutnya yang menjelaskan alasan patutnya perkembangan industry seluler menjadi babak penting dalam sejarah Indonesia. Merujuk data Wireless Intelligent, pengguna selular di Indonesia mencapai 116.144.392 orang. Ini hampir separuh dari jumlah penduduk Indonesia! Maklum, pada level konsumen, produk selular memang relatif lebih terjangkau. Kini, berbekal uang 300-an ribu saja, seseorang bisa memiliki telepon genggam dengan fasilitas internet. Tarif selular yang murah kian memudahkan orang untuk saling terhubung satu sama lain. Lebih-lebih, teknologi selular kini mengalami konvergensi. Tak hanya terbatas pada fasilitas panggilan, SMS dan MMS, namun sudah merambah ke dunia virtual. Aksesibilitas dan konvergensi lalu menjadi kunci untuk memahami dan mengelola kebutuhan manusia modern yang haus akan kecepatan dan mobilitas.
Hal di atas menunjukkan bahwa memang masyarakat sangat membutuhkan jariangan komunikasi yang lancar dan handal dimanapun mereka berada dan akan mendukung setiap kegiatan yang menguntungkan mereka salah satunya ialah bila dibangun jaringan di daerah perbatasan, mengingat pada era sekarang hubungan antar manusia tak terbatas jarak, ruang dan waktu.
Dengan jaringan komunikasi yang handal dibarengi dengan aksesibilitas dan konvergensi teknologi seluler akan menyebabkan terjadinya hubungan timbak balik secara langsung antara pemerintah dengan rakyatnya. manakala hak-hak warganegara dan keadilan di depan hukum dilecehkan oleh lembaga atau individu yang seharusnya memanggulnya sebagai amanat, masyarakat dapat secara langsung menyampaikan keluhannya kepada pihak-pihak terkait atau mempublikasikanya ke ranah public guna mendapatkan dukungan. Apa yang sering disebut sebagai gerakan sosial kini lebih mudah dikonsolidasikan lewat jejaring virtual.
Teknologi memungkinkan publik tidak lagi menjadi obyek-pasif dari berbagai dinamika kenegaraan. Ketiga, teknologi ternyata mendorong pejabat publik untuk bersedia berkomunikasi dengan publiknya. Ada banyak contoh. Misalnya, Presiden SBY dan lembaga kepolisian di beberapa daerah yang menyediakan nomor khusus bagi pengaduan masyarakat lewat SMS. Contoh lain, nyaris seluruh lembaga publik merasa perlu untuk berkomunikasi dengan publik dengan membuat situs atau portal resmi. Sejumlah pejabat publik juga menjalin pertemanan maya dengan masyarakat luas melalui email, facebook, atau twitter.
Setelah melihat warga masyarakatnya, bagaimana dengan pemerintah menanggapi masalah ini secara kelembagaan? Ternyata dalam hal ini pemerintah telah memiliki pemikiran yang sama seperti yang diinginkan masyarakat. Terbukti dengan upaya pemerintah yang mencanangkan sebuah proyek raksasa yang berhubungan dengan komunikasi. Berdasarkan tulisan Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), Basuki Yusuf Iskandar, pada Desember 2007, “Perkembangan Teknologi Komunikasi”, rencananya akan dibangun megaproyek backbone yang bernama Palapa Ring. Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Diungkapkan, manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia adalah untuk :
1. Ketersediaan layanan komunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kota/kabupaten.
2. Efisiensi investasi yang akan mendorong tarif telekomunikasi semakin murah.
3. Terjadi percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong bertumbuhnya varian penyelenggara jasa telekomunikasi dan jasanya.
4. Keberadaan aplikasi seperti distance learning, telemedicine, e-government, dan aplikasi lainnya, dapat diimplementasikan hingga mencapai kota/kabupaten.
Investasi pembangunan Palapa Ring sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi anggota konsorsium, tidak ada dana yang berasal dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Berbeda dengan Palapa Ring, dana dalam proyek ini diperoleh dari prosentase keuntungan para operator yang wajib di setor ke pemerintah, ditambah dengan dana dari jastel (Depkeu) sebagai ICT fund.“Kewajiban USO dari industri awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 % untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi,” ungkap Dirjen Postel , Basuki Jusuf Iskandar, dalam pidatonya pada acara 2nd Annual Indonesia Internasional Summit 2009, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 11 November 2009.
Melihat kebutuhan masyarakat akan komunikasi dan kesungguhan dari pemerintah dan operator telekomunikasi dalam upaya peningkatan jaringan komunikasi di Indonesia, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung secara penuh usaha yang dirintis oleh pemerintah dan operator telekomunikasi diatas. Untuk operator telekomunikasi hal ini merupakan bukti riil dukungan penuh pemerintah dan masyarakat terhadap agresi OPSEL.
Saatnya bergerak cepat
Semua hal telah mengarahkan bahwa pembangunan jaringan telekomunikasi dan penyediaan jasa telekomunikasi di daerah perbatasan Indonesia harus benar-benar diperhatikan secara serius dan fokus sehingga dampaknya akan semakin cepat dirasakan oleh masyrakat selaku konsumen atau obyek yang secara langsung menerima dampak dari adanya pembangunan ini.
Kebutuhan masyarakat, dukungan pemerintah dan sokongan operator telekomunikasi telah menunjukkan bahwa pembangunan ini sudah sampai pada tahap pelaksanaan dan pengawasan yang harapannya bisa mempercepat proses pembangunan ini. Kerja keras, kerja cerdas, kerja cepat dan fokus dari semua pihak yang terkait mutlak diperlukan dalam membangun bangsa ini
Hal ini kembali menjadi saksi bahwa operator telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa. Mari kita lihat bersama sejauh mana aplikasi peran yang bisa mereka lakukan agar bangsaIndonesia dapat menjadi bangsa yang besar di dunia dan meraih semua angan, cita dan asa yang hakiki.
Fajar Marendra
Penulis merupakan ketua bidang pendidikan
Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia 2009/2010
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Indonesia, salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, terkenal sebagai zamrud khatulistiwa dengan wilayahnya yang sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Talaud dan kandungan sumber daya alam yang melimpah disetiap jengkal wilayahnya menjanjikan sebuah harapan akan kesejahteraan yang memadai untuk orang-orang di dalamnya secara keseluruhan maupun bagi orang-orang yang berada disekitarnya.
Namun telah menjadi rahasia umum, negeri yang begitu besar potensinya ternyata masih belum bisa menjamin kesejahteraan bagi masyarakat di dalamnya secara optimal, terbukti dari adanya kesenjangan secara ekonomi antara daerah satu dengan daerah yang lain, terutama daerah-daerah perbatasan di Indonesia. Tentu kita masih ingat beberapa kasus yang menimpa daerah perbatasan kita,seperti pulau Sipadan dan Ligitan, Blok Ambalat, perbatasan antara NTT dengan Timoer Leste. Hal itu hanyalah sebagian kecil dari masalah-masalah yang timbul di daerah perbatasan yang sering tak kita perhatikan karena memang mereka berada jauh sekali dari tempat kita berdiri sekarang, kalaupun kita memperhatikan mereka hanyalah karena kita latah saat timbul masalah disana, selebihnya kita tak pernah menghiraukannya.
Pernyataan di atas bukanlah sebuah justifikasi bahwa masalah-masalah yang timbul di perbatasan merupakan kesalahan dari satu pihak. Titik tekan dari hal yang dikemukakan diatas ialah mengenai bagaimana cara meminimalisasi atau menyelesaikan masalah yang telah timbul ini. Kita harus dapat menemukan akar dari masalah ini untuk kemudian kita selesaikan dengan berbagai kemungkinan yang bisa kita lakukan sehingga kedepannya, Bangsa Indonesia akan semakin menjadi bangsa yang besar di dunia.
Perlu dipahamkan disini, bahwa keberadaan dari wilayah perbatasan merupakan hal yang sangat urgen untuk diperhatikan oleh sebuah negara karena berhubungan dengan kedaulatan negara dan keberlangsungan hidup dari negara itu sendiri. Mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan memiliki daerah terluar yang berbatasan langsung dengan banyak negara tetangga maka sudah sewajarnya bila Indonesia memberikan space khusus untuk pengelolaan daerah perbatasan. Hal ini bukanlah semata-mata peran pemerintah selaku penyelenggara negara namun juga pihak-pihak yang secara kemampuan berpotensi untuk turut ambil bagian dalam pengelolaan daerah perbatasan ini. Salah satu pihak yang sangat berpotensi besar dan akan memberikan sumbangsih yang signifikan ialah OPSEL (Operator Seluler) atau biasa dikenal dengan operator telekomunikasi, namun agar lebih enak kita memperbincangkanya maka untuk selanjutnya kita akan memakai istilah OPSEL, yang sekarang sedang menimbang-nimbang untuk meluaskan pangsa pasarnya di daerah perbatasan Indonesia melalui agresi OPSEL.
Untuk mengetahui alasan dan sejauh mana agresi OPSEL berperan dalam pengelolaan daerah perbatasan, maka saya mengikuti sebuah alur dari metode analisis sosial yang sempat saya dapatkan dalam sebuah training, walaupun tidak sepenuhnya namun cukup untuk memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara pengelolaan daerah perbatasan dengan agresi OPSEL. Keterkaitan ini akan disajikan dalam beberapa bagian yang kemudian menyatu dan berpadu menbentuk sebuah alur yang dinamik dan artistik. Akar masalah timbul, momen agresi yang tepat, tantangan di depan mata, dukungan kekuatan, saatnya bergerak cepat, merupakan bagian-bagian yang menarik untuk menggambarkan keterkaitan antara keduanya.
Akar masalah timbul
Sebenarnya apakah yang menjadi akar permasalahan dari terjadinya berbagai hal yang menyangkut daerah perbatasan ini? Mungkin sebagian dari kita sudah tahu, hanya satu kata dan terdiri dari sepuluh huruf, KOMUNIKASI.
Komunikasi yang bagaimana? Timbul sebuah alur komunikasi yang tidak efektif antara daerah perbatasan dengan pemerintah pusat, keluhan-keluhan, kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat perbatasan jarang yang sampai ke pemerintah pusat dalam keadaan utuh, bahkan tak jarang aspirasi mereka tak pernah sampai ke pemerintah pusat. Sementara pemerintah pusat yang notabene tidak mengetahui secara langsung keadaan yang sebenarnya di daerah perbatasan, menganggap tidak terjadi masalah di daerah perbatasan karena tidak adanya laporan yang masuk ke pemerintah pusat. Ini merupakan contoh kecil dari akar masalah yang disebutkan.
Komunikasi merupakan kebutuhan primer keempat setelah sandang, pangan, papan disadari atau tidak. Dengan dan dalam komunikasi, dunia makna terbentuk, gagasan lahir, inspirasi muncul dan perubahan demi perubahan berlangsung. Komunikasi lah yang mengutuhkan kelayakan hidup manusia sebagai makhluk sosial dan individual. Apabila kebutuhan akan komunikasi ini tidak terpenuhi secara proporsional maka otomatis akan menimbulkan dampak social yang tidak kecil efeknya bagi masyarakat itu sendiri
Secara tidak langsung dalam blognya Ahmad Musthofa Haroen menyatakan bahwa kesenjangan yang terjadi antara daerah perbatasan dengan pemeruntah pusat merupakan
“akibat dari ketiadaan dialog. Kesulitan melakukan dialog disebabkan adanya jarak psikologis, wilayah, waktu, atau kombinasi ketiganya. Dialog baru bisa terjadi jika ada mediasi. Di situ, identitas-identitas berhadapan bukan untuk saling dipertentangkan, tapi belajar untuk saling memahami. Dalam konteks yang lebih luas, berbagai konflik identitas yang terjadi di Indonesia antara lain disebabkan kurangnya kesediaan membangun komunikasi yang intim dan hangat. Dalam konteks seperti ini, konvergensi selular memainkan peran penting. Jurang pemisah antar daerah, antar suku, dan antar agama kini sangat bisa didekatkan melalui konvergensi dan aksesibilitas selular. Dua atau lebih pihak semakin mungkin untuk saling belajar dan memahami dari sumber-sumber informasi yang terkait”
Melihat penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan bahwa memang KOMUNIKASI-lah yang menjadi akar masalah dari berbagai macam hal yang timbul di di daerah perbatasan. Pulau Sipadan dan Ligitan tak akan lepas dari kita andai kita menjaga komunikasi yang intim dan hangat dengan orang-orang yang ada disana, itulah yang mungkin dilakukan negara tetangga kita terhadap masyrakat kedua pulau itu sehingga akhirnya mereka memang merasa bagian dari negara tetangga kita itu, terlepas dari masalah teritori dll.
Hal itu lah yang menyebabkan agresi OPSEL mendapat bagian di sini karena memang KOMUNIKASI merupakan senjata utama OPSEL untuk menjalankan agresinya.
Momen agresi yang tepat
Agresi yang dilakukan oleh OPSEL di Perbatasan Indonesia melalui pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi bila dilakukan saat-saat sekarang merupakan momen yang tepat. Dikatakan tepat karena saat ini kebutuhan akan hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi sangat banyak dan memiliki kecenderungan yang terus meningkat setiap tahun. Data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang. Padahal, tingkat kepemilikan komputer hanya 2,5 juta orang. Meski internet juga diakses lewat jasa warnet (Warung internet), namun bisa diasumsikan bahwa dari 25 juta orang itu, jumlah pengguna selular menyumbang jumlah yang tak sedikit. Yang mengejutkan, jauh dari perkiraan Internet World Stats, InMobi memprediksi jumlah pengguna internet selular di Indonesia pada akhir 2010 akan mencapai 146 juta orang. Apakah benar prediksi dari InMobi ini, silahkan melakukan perhitungan sendiri.
Daerah perbatasan yang selama ini seakan-akan dianaktirikan ternyata merupakan pangsa pasar yang potensial. Wilayah Indonesia yang luas dengan wilayah perbatasannya menuntut sebuah sistem yang bisa mengakomodasi kebutuhan komunikasi antara daerah perbatasan dan pemerintah selaku penentu kebijakan. Komunikasi disini meliputi masalah pertahanan keamanan, perdagangan, jasa, diplomatik dll yang berhubungan langsung dengan kebutuhan orang banyak. Belum adanya pihak yang secara khusus dan fokus dalam pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi merupakan hal-hal yang memantapkan pergerakan dari agresi OPSEL ini.
Melihat kenyataan yang ada dewasa ini bahwa kemampuan jaringan dari OPSEL memang belum mencakup semua daerah terbukti pada daerah-daerah tertentu masih ditemukan spot-spot yang tidak ada sinyal, apalagi di daerah perbatasan yang biasanya berada di daerah-daerah pedalaman, ditengah hutan, atau di kepulauan padahal disana terdapat cukup banyak masyarakat yang haus akan kebutuhan komunikasi. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa wilayah agresi yang bisa digunakan sebagai pangsa pasar masih cukup banyak dan terbuka lebar untuk diperluas. Tentu dengan sebuah keberanian yang cukup dari Operator telekomunikasi yang ada di Indonesia untuk menerima tantangan ini maka operator telekomunikasi ini akan menjadi operator telekomunikasi yang besar karena efek dari serius dalam pengelolaan daerah perbatasan ini bersifat berantai. Satu hal akan menimbulkan hal yang lain,begitu seterusnya.
Maka benarlah jika dikatakan sekarang adalah momen yang pas untuk menunjukkan eksistensi operator telekomunikasi dan wujud cinta tanah air dalam menjaga kedaulatan Indonesia melalui pemberdayaan daerah perbatasan.
Tantangan di depan mata
Bukan tanpa alasan mengapa sampai saat ini masih terdapat daerah-daerah yang belum tersentuh jaringan telekomunikasi milik operator telekomunikasi. Hal ini terjadi karena memang biaya yang harus ditanggung oleh pihak operator telekomunikasi untuk membangun jaringan dan menyediakan layanan jasa di daerah perbatasan tidaklah sedikit, bahkan lebih murah bila membangun di daerah pekotaan atau pinggiran kota. Membangun jaringan di daerah perbatasan cukup sulit karena menyangkut akses menuju daerah itu, tenaga kerja yang tersedia, bahan-bahan yang tersedia dll yang apabila tidak dipikirkan secara matang, yang didapatkan bukan keuntungan seperti yang didambakan melainkan kerugian yang besar.
Inilah yang harus dijawab oleh para operator telekomunikasi. Sebuah tantangan yang apabila berhasil diatasi kesuksesan yang besar akan diraih. Nampaknya telah ada beberapa operator telekomunikasi yang mencoba menjawab tantangan ini dengan membangun banyak jaringan di wilayah Indonesia. Walaupun belum dilaksanakan secara menyuluruh di wilayah Indonesia namun paling tidak sudah terdapat OPSEL yang berusaha mendekat kea rah yang dimaksud.
Dari hal diatas membuktikan bahwa masih banyak pangsa pasar potensial yang belum dikelola secara menyeluruh yang berarti merupakan sebuah kesempatan bagi OPSEL-OPSEL yang lain di Indonesia. Semakin banyak OPSEL yang sadar akan strategi ini maka selain OPSEL-OPSEL itu yang mendapat untung masyarakatlah yang akan mendapat keuntungan yang signifikan karena semakin banyak pilihan sehingga masyarakat dapat memilih mana yang lebih baik dan cocok untuk kebutuhannya.
Tantangan harus segera dijawab dengan suatu tindakan nyata “AGRESI OSPEL DI PERBATASAN INDONESIA” karena tindakan ini akan memberikan efek domino kepada kegiatan masyarakat. Semakin berkembang masyarakat maka kebutuhan akan kemunikasi akan semakin besar dan besar. Hal ini tentu menguntungkan OPSEL selaku pengelola komunikasi.
Dengan menjalankan tindakan ini maka OPSEL telah membantu masyarakat untuk membentuk jurnalisme warga. Jurnalisme warga penting artinya karena tidak setiap peristiwa yang bernilai publik bisa dijangkau oleh kerja jurnalis profesional. Jurnalisme warga merentang luas dari sisi verbal, audio, dan visual. Pokoknya, tiap kali menjumpai sebuah peristiwa yang layak untuk diketahui publik, anda berkesempatan menjadi jurnalis-warga—siapapun dan apapun latar belakang anda.
Walaupun secara faktual kebutuhan akan jaringan komunikasi di daerah perbatasan untuk saat ini berada pada level yang tinggi, hal ini tidak lantas membuat OPSEL memiliki keleluasaan untuk dengan seenaknya membangun jaringan pada suatu daerah. Mereka harus tetap melakukan koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait, terutama dengan masyarakat yang ada disana,yang merupakan pangsa pasar dari OPSEL itu sendiri, mereka harus bisa memahami kultur yang ada dalam masyarakat yang tentu saja berbeda dengan kultur masyarakat perkotaan. Disini diperlukan kepekaan yang tinggi untuk masuk dalam struktur kemasyarakatan yang ada. Sebuah tantangan tambahan bagi operator telekomunikasi.
Dukungan kekuatan
Saya kira semua setuju kalau dikatakan bahwa perkembangan industri seluler atau telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini bahkan patut untuk dijadikan sebuah babak penting dalam sejarah Indonesia. Hal itu terjadi karena beberapa hal, diantaranya disadari atau tidak industri seluler telah mengubah dan memperbarui pola-pola kemunikasi dan informasi yang berkembang di masyarakat. Problem jarak dan waktu yang ada dalam pola komunikasi tradisional telah dimudahkan dengan komunikasi selular. Perlu diketahui bahwa bila suatu system komunikasi berjalan dengan baik maka akan berdampak positif pada aspek-aspek kehidupan yang lebih luas karena memang komunikasi merupakan hal utama menyangkut hubungan antara satu orang dangan orang lain. Jumlah pelanggan seluler yang mencapai angka fantastis menjadi hal berikutnya yang menjelaskan alasan patutnya perkembangan industry seluler menjadi babak penting dalam sejarah Indonesia. Merujuk data Wireless Intelligent, pengguna selular di Indonesia mencapai 116.144.392 orang. Ini hampir separuh dari jumlah penduduk Indonesia! Maklum, pada level konsumen, produk selular memang relatif lebih terjangkau. Kini, berbekal uang 300-an ribu saja, seseorang bisa memiliki telepon genggam dengan fasilitas internet. Tarif selular yang murah kian memudahkan orang untuk saling terhubung satu sama lain. Lebih-lebih, teknologi selular kini mengalami konvergensi. Tak hanya terbatas pada fasilitas panggilan, SMS dan MMS, namun sudah merambah ke dunia virtual. Aksesibilitas dan konvergensi lalu menjadi kunci untuk memahami dan mengelola kebutuhan manusia modern yang haus akan kecepatan dan mobilitas.
Hal di atas menunjukkan bahwa memang masyarakat sangat membutuhkan jariangan komunikasi yang lancar dan handal dimanapun mereka berada dan akan mendukung setiap kegiatan yang menguntungkan mereka salah satunya ialah bila dibangun jaringan di daerah perbatasan, mengingat pada era sekarang hubungan antar manusia tak terbatas jarak, ruang dan waktu.
Dengan jaringan komunikasi yang handal dibarengi dengan aksesibilitas dan konvergensi teknologi seluler akan menyebabkan terjadinya hubungan timbak balik secara langsung antara pemerintah dengan rakyatnya. manakala hak-hak warganegara dan keadilan di depan hukum dilecehkan oleh lembaga atau individu yang seharusnya memanggulnya sebagai amanat, masyarakat dapat secara langsung menyampaikan keluhannya kepada pihak-pihak terkait atau mempublikasikanya ke ranah public guna mendapatkan dukungan. Apa yang sering disebut sebagai gerakan sosial kini lebih mudah dikonsolidasikan lewat jejaring virtual.
Teknologi memungkinkan publik tidak lagi menjadi obyek-pasif dari berbagai dinamika kenegaraan. Ketiga, teknologi ternyata mendorong pejabat publik untuk bersedia berkomunikasi dengan publiknya. Ada banyak contoh. Misalnya, Presiden SBY dan lembaga kepolisian di beberapa daerah yang menyediakan nomor khusus bagi pengaduan masyarakat lewat SMS. Contoh lain, nyaris seluruh lembaga publik merasa perlu untuk berkomunikasi dengan publik dengan membuat situs atau portal resmi. Sejumlah pejabat publik juga menjalin pertemanan maya dengan masyarakat luas melalui email, facebook, atau twitter.
Setelah melihat warga masyarakatnya, bagaimana dengan pemerintah menanggapi masalah ini secara kelembagaan? Ternyata dalam hal ini pemerintah telah memiliki pemikiran yang sama seperti yang diinginkan masyarakat. Terbukti dengan upaya pemerintah yang mencanangkan sebuah proyek raksasa yang berhubungan dengan komunikasi. Berdasarkan tulisan Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), Basuki Yusuf Iskandar, pada Desember 2007, “Perkembangan Teknologi Komunikasi”, rencananya akan dibangun megaproyek backbone yang bernama Palapa Ring. Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Diungkapkan, manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia adalah untuk :
1. Ketersediaan layanan komunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kota/kabupaten.
2. Efisiensi investasi yang akan mendorong tarif telekomunikasi semakin murah.
3. Terjadi percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong bertumbuhnya varian penyelenggara jasa telekomunikasi dan jasanya.
4. Keberadaan aplikasi seperti distance learning, telemedicine, e-government, dan aplikasi lainnya, dapat diimplementasikan hingga mencapai kota/kabupaten.
Investasi pembangunan Palapa Ring sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi anggota konsorsium, tidak ada dana yang berasal dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Berbeda dengan Palapa Ring, dana dalam proyek ini diperoleh dari prosentase keuntungan para operator yang wajib di setor ke pemerintah, ditambah dengan dana dari jastel (Depkeu) sebagai ICT fund.“Kewajiban USO dari industri awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 % untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi,” ungkap Dirjen Postel , Basuki Jusuf Iskandar, dalam pidatonya pada acara 2nd Annual Indonesia Internasional Summit 2009, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 11 November 2009.
Melihat kebutuhan masyarakat akan komunikasi dan kesungguhan dari pemerintah dan operator telekomunikasi dalam upaya peningkatan jaringan komunikasi di Indonesia, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung secara penuh usaha yang dirintis oleh pemerintah dan operator telekomunikasi diatas. Untuk operator telekomunikasi hal ini merupakan bukti riil dukungan penuh pemerintah dan masyarakat terhadap agresi OPSEL.
Saatnya bergerak cepat
Semua hal telah mengarahkan bahwa pembangunan jaringan telekomunikasi dan penyediaan jasa telekomunikasi di daerah perbatasan Indonesia harus benar-benar diperhatikan secara serius dan fokus sehingga dampaknya akan semakin cepat dirasakan oleh masyrakat selaku konsumen atau obyek yang secara langsung menerima dampak dari adanya pembangunan ini.
Kebutuhan masyarakat, dukungan pemerintah dan sokongan operator telekomunikasi telah menunjukkan bahwa pembangunan ini sudah sampai pada tahap pelaksanaan dan pengawasan yang harapannya bisa mempercepat proses pembangunan ini. Kerja keras, kerja cerdas, kerja cepat dan fokus dari semua pihak yang terkait mutlak diperlukan dalam membangun bangsa ini
Hal ini kembali menjadi saksi bahwa operator telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa. Mari kita lihat bersama sejauh mana aplikasi peran yang bisa mereka lakukan agar bangsaIndonesia dapat menjadi bangsa yang besar di dunia dan meraih semua angan, cita dan asa yang hakiki.
Fajar Marendra
Penulis merupakan ketua bidang pendidikan
Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia 2009/2010
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Senin, 08 November 2010
Anganku
Dan berjuang pun tak terhenti
Walau sakit menyiksa diri
Karena telah terpatri
Demi kehidupan hakiki yang abadi
Berjalan dengan penuh harapan
Ada jalan ada tujuan
Tujuan utama setiap insan
Menjadi orang yang paling terdepan
Dalam setiap kesempatan
Berlomba-lomba dalam kebaikan
Memang unik kehidupan
Kadang di haluan kadang diburitan
Tinggal siapa yang bagus dalam pandangan
Yang kan berhasil gapai tujuan
Gadis kecil berjalan pelan
Dengan lambat memegang nampan
Berkeliling mencari rizki
Tak pernah ada luh mengalir di pipi
Senantiasa tersungging lesung pipit menawan hati
Walau kehidupan telah renggut tak peduli
Bahkan untuk makan sehari
Tak cukup berkeliling bermil-mil menyusuri
Namun lesung pipit menawan hati tersungging manis di kedua pipi
Coba tengok kita kawan
Lihat kamu kawan
Menghadapi masalah yang kecil
Kau sudah frustasi
Masalah besar kau bunuh diri
Mau jadi apa bangsa ini kalau pemudanya kayak gini
Tiada rasa percaya diri
Yang ada hanya mimpi dan hanya sekadar mimpi
Sebuah ironi ya sebuah ironi
Tak bisakah kau ambil dari gadis kecil pembawa nampan berlesung pipi?
Walau sakit menyiksa diri
Karena telah terpatri
Demi kehidupan hakiki yang abadi
Berjalan dengan penuh harapan
Ada jalan ada tujuan
Tujuan utama setiap insan
Menjadi orang yang paling terdepan
Dalam setiap kesempatan
Berlomba-lomba dalam kebaikan
Memang unik kehidupan
Kadang di haluan kadang diburitan
Tinggal siapa yang bagus dalam pandangan
Yang kan berhasil gapai tujuan
Gadis kecil berjalan pelan
Dengan lambat memegang nampan
Berkeliling mencari rizki
Tak pernah ada luh mengalir di pipi
Senantiasa tersungging lesung pipit menawan hati
Walau kehidupan telah renggut tak peduli
Bahkan untuk makan sehari
Tak cukup berkeliling bermil-mil menyusuri
Namun lesung pipit menawan hati tersungging manis di kedua pipi
Coba tengok kita kawan
Lihat kamu kawan
Menghadapi masalah yang kecil
Kau sudah frustasi
Masalah besar kau bunuh diri
Mau jadi apa bangsa ini kalau pemudanya kayak gini
Tiada rasa percaya diri
Yang ada hanya mimpi dan hanya sekadar mimpi
Sebuah ironi ya sebuah ironi
Tak bisakah kau ambil dari gadis kecil pembawa nampan berlesung pipi?
Al-fajr
Demi fajar
Demi malam yang sepuluh
Demi yang genap dan yang ganjil
Demi malam yang berlaluh
Adakah dalam itu sumpah bagi orang-orang yang berakal?
Tidakkah engkau memeperhatikan bagaimana tuhanmu berbuat terhadap ‘ad?
Penduduk iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
belum pernah dibangun , di negeri-negeri
terhadap kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah
Terhadap fir’aun yang mempunyai pasak-pasak
Berbuat sewenang-wenang di dalam negeri
Berbuat kerusakan didalam negeri
Karena itu tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka
Sungguh, tuhanmu benar-benar mengawasi
manusia, apabila tuhan mengujinya lalu memuliakannya, dia berkata”tuhanku telah memuliakanku”
bila tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata,”tuhanku telah menghinaku”
Sekali-kali tidak!bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim
Kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin
Sedangkan kamu makan harta warisan dengan cara mencampurbaur
Kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan
Sekali-kali tidak!apabila bumi di guncangkan berturut-turut
Datanglah tuhanmu beserta malaikat yang berbaris-baris
Neraka jahanam diperlihatkan
Tersadarlah manusia,
Namun Tiada berguna sadar mereka
Dia berkata,”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini”
Maka pada hari itu tak kan ada seorangpun yang mengazab seperti azabNya
Tak ada yang mengikat sekuat ikataNya
Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah pada tuhanmu dengan ridho dan ridha-Nya
Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Masuklah ke dalam surge-Ku
Demi malam yang sepuluh
Demi yang genap dan yang ganjil
Demi malam yang berlaluh
Adakah dalam itu sumpah bagi orang-orang yang berakal?
Tidakkah engkau memeperhatikan bagaimana tuhanmu berbuat terhadap ‘ad?
Penduduk iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
belum pernah dibangun , di negeri-negeri
terhadap kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah
Terhadap fir’aun yang mempunyai pasak-pasak
Berbuat sewenang-wenang di dalam negeri
Berbuat kerusakan didalam negeri
Karena itu tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka
Sungguh, tuhanmu benar-benar mengawasi
manusia, apabila tuhan mengujinya lalu memuliakannya, dia berkata”tuhanku telah memuliakanku”
bila tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata,”tuhanku telah menghinaku”
Sekali-kali tidak!bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim
Kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin
Sedangkan kamu makan harta warisan dengan cara mencampurbaur
Kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan
Sekali-kali tidak!apabila bumi di guncangkan berturut-turut
Datanglah tuhanmu beserta malaikat yang berbaris-baris
Neraka jahanam diperlihatkan
Tersadarlah manusia,
Namun Tiada berguna sadar mereka
Dia berkata,”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini”
Maka pada hari itu tak kan ada seorangpun yang mengazab seperti azabNya
Tak ada yang mengikat sekuat ikataNya
Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah pada tuhanmu dengan ridho dan ridha-Nya
Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Masuklah ke dalam surge-Ku
Pelan dan pelan
Ku jadikan kau tujuan
Tuk menjaga harapan agar terus bertahan
Namun mengapa diri ini sekarang seakan lemah tak bernyawa
Inginnya hanya enaknya saja
Bermimpi besar namun hanya mimpi
Tak mau berusaha mewujudkannya
Sungguh aneh memang
Lelaki muda dulu telah menjadi renta
Perempuan muda yang dulu telah hilang mudanya
Telah berakhir semua angan
Karena bentar lagi ajal kan jemput
Maukah kau seperti itu wahai generasi muda
Mati terpuruk tanpa prestasi tak dipedulikan dan ditinggalkan
Generasi muda yang penuh dengan obsesi dan gairah
Telah menjadikan hidup yang lengah
Mereka lengah dan ogah
Konyol
Memang konyol
Generasi harapan malah gak punya harapan
Maka perjuangan ini harus diberikan kepada siapa
Tonggak estafet harus dipercayakan kepada siapa
Mungkin ini memang kesalahanku
Karena tak meberikan pembelajaran yang bagus kepada kalian
Kalian teruslah menyalahkan aku
Karena memang aku salah disini
Namun lihatlah kalian
Apakah pantas kalian menyalahkan orang lain
Kalau kalian sendiri yang sebanarnnya melakuakn kesalahan juga
Ya begitulah manusia
Manusia ya begitu
Tuk menjaga harapan agar terus bertahan
Namun mengapa diri ini sekarang seakan lemah tak bernyawa
Inginnya hanya enaknya saja
Bermimpi besar namun hanya mimpi
Tak mau berusaha mewujudkannya
Sungguh aneh memang
Lelaki muda dulu telah menjadi renta
Perempuan muda yang dulu telah hilang mudanya
Telah berakhir semua angan
Karena bentar lagi ajal kan jemput
Maukah kau seperti itu wahai generasi muda
Mati terpuruk tanpa prestasi tak dipedulikan dan ditinggalkan
Generasi muda yang penuh dengan obsesi dan gairah
Telah menjadikan hidup yang lengah
Mereka lengah dan ogah
Konyol
Memang konyol
Generasi harapan malah gak punya harapan
Maka perjuangan ini harus diberikan kepada siapa
Tonggak estafet harus dipercayakan kepada siapa
Mungkin ini memang kesalahanku
Karena tak meberikan pembelajaran yang bagus kepada kalian
Kalian teruslah menyalahkan aku
Karena memang aku salah disini
Namun lihatlah kalian
Apakah pantas kalian menyalahkan orang lain
Kalau kalian sendiri yang sebanarnnya melakuakn kesalahan juga
Ya begitulah manusia
Manusia ya begitu
Menunggu
Menunggumu bagaikan batu
Bak pelita tak berdaya
Menangis hingga air mata kering
Tak membuatmu berkutik
Detik berganti menit
Menit meninggalkan jam
Hingga mata terpejam
Kau masih tak bergumam
Tetap dengan pendirian konyolmu itu
Tau kah kau kau itu telah ditipu
Kau telah tertipu
Semua orang tahu tapi kenapa kau tak mengetahui
Semua orang mengerti
Tapi kenapa kau tak peduli
Terus lari dan lari dari kebenaran yang hakiki
Tak akan pernah selesai masalah putri
Ketika kau lari masalah itu kan mengikuti
Batu bagi pelita tak berdaya.
Bak pelita tak berdaya
Menangis hingga air mata kering
Tak membuatmu berkutik
Detik berganti menit
Menit meninggalkan jam
Hingga mata terpejam
Kau masih tak bergumam
Tetap dengan pendirian konyolmu itu
Tau kah kau kau itu telah ditipu
Kau telah tertipu
Semua orang tahu tapi kenapa kau tak mengetahui
Semua orang mengerti
Tapi kenapa kau tak peduli
Terus lari dan lari dari kebenaran yang hakiki
Tak akan pernah selesai masalah putri
Ketika kau lari masalah itu kan mengikuti
Batu bagi pelita tak berdaya.
CATATAN PERJALANAN
Pagi yang cerah namun sedikit berkabut menyambutku ketika diri ini mulai kembali mengumpulkan ruh-ruh jiwa yang semalaman telah berkelana masing-masing dengan segala angan dan mimpi yang menemani. Alunan merdu dari Chrisye yang menyanyikan sebuan baitnya yang merdu “Damai bersama-Mu” membuat diri ini kembali mengingat arti dari perjalanan ini. Perjalannan panjang yang harus ditempuh setiap insan manusia yang sudah beranjak dewasa.
Lantunan yang begitu merdu membuat hati ini damai rasanya menikmati indahnya pagi ini. Setelah semalaman mayapada ini terguyur hujan dengan derasnya membuat semakin sejuk udara di desaku tempat aku berpijak sekarang . Lari dari rutinitas untuk sekadar istirahat sejenak dari segala kepenatan sebelum kembali kedalam rutinitas yang menyenangkan namun kadang menyisipkan sakit di dalam hati. Heeeeee…………….melankolis banget sih…………jiwa kejantananku protes nih. Tiba-tiba tangan ini ingin menulis, pokoknya nulis , tidak tahu apa yang harus ditulis, tapi yang pasti aku sekarang telah menggoreskan tinta hitam ini dalam kertas putih yang secara sukarela dan ikhlas membiarkan tubuhnya yang putih bersih dan suci mulai terdapat goresan-goresan hitam dari pena yang aku punya.
Tangan ini pun terus menulis dan menulis apapun yang ingin dia tulis .namun ternyata antara tangan dan otakku tidak sinkron ,inginnya tangan tetap nulis tapi pikiran udah stag tidak ada pikiran lagi mau nulis apa jadi udah dulu ya berhenti dulu ya.Tapi aku ada sebuah puisi yang barusan aja aku buat. Dibaca ya
Pergi kembali
Sekian lama kau kembali dan sekarang pergi
Meninggalkanku sendiri dalam sepi
Bagaikan sebuah senapan yang mati tanpa amunisi
Menyisakan sebuah angan dan lentera harapan yamng kecil dalam hati
Tapi kasih…………………
Aku harap kau paham kau tahu dan kau mengerti
Hati ini tak pernah melupakanmu
Walaupun kau jauh dibalik tugu dan seberang perahu
Cinta ini akan selalu memberikan hangatnya untukmu
Kasih……………
Kau begitu cantik dan mempesona hati
Kadang keegoisanku muncul tuk memiliki
Ya memiliki dirimu seorang diri.
Hanya untuk diriku sendiri tak mau berbagi
Sayang………..
Jagalah kencantikan titipan itu
Jangan biarkan tangan jahanam menyentuhmu
Dengan alasan apapun jangan pernah biarkan menjamahmu
Panjangkanlah jilbabmu
Tundukkalah pandanganmu
Karena matamu yang lentik itu sungguh mempesona
Tiada manusiapun yang tahan dari pesona mata
Lantunkanlah kalam dan firman itu dengan bibirmu yang sensual dan menawan itu
Buatlah hati setiap pendengarnya tenang dan mengingat sang pemilik kehidupan
Yang terkasih…………..
Biarkanlah air wudhu itu merayap dari ujung kepalamu menuju pipi yang mulus itu, hidung yang mancung itu, wajah yang menawan, tangan yang gemulai, dan tubuh yang aduhai
Hingga kau siap menjadi pribadi yang bersih sehat dan cerdas yang akan serlalu siap tuk menjadi ladang bagi suamimu.
Siap berperan sebagai Singa padang pasir yang membimbing generasi-generasi muda islam yang menjadikan quran dan hadist sebagai prinsip dan dasar pemikirannya.
Sayang…… Kaulah garda terdepan
Kau yang paling depan
Kau sungguh mempesona dan menarik jiwa
Gunakan pesona itu dan jaga biar abadi sampai kelak di kehidupan abadi
Salam sayang dari sang pemimpi dan pencinta
Sebuah goresan untuk siapapun yang sedang ingin lepas dari rutinitas sejemak. Setelah dipikir pikir aku menulis ini buat siapa ya.kembali pertanyaan awal tadi terucap. Namun saat ini kau sedang tak ingin bercuhat ria.hany sebuah angan dan impian tuk menjadi ya gpribadi muslim yang berkualitas.dengan mengamalkan yan gdiperintahkan dan menjauhi yang dilarang.
By Rein
Lantunan yang begitu merdu membuat hati ini damai rasanya menikmati indahnya pagi ini. Setelah semalaman mayapada ini terguyur hujan dengan derasnya membuat semakin sejuk udara di desaku tempat aku berpijak sekarang . Lari dari rutinitas untuk sekadar istirahat sejenak dari segala kepenatan sebelum kembali kedalam rutinitas yang menyenangkan namun kadang menyisipkan sakit di dalam hati. Heeeeee…………….melankolis banget sih…………jiwa kejantananku protes nih. Tiba-tiba tangan ini ingin menulis, pokoknya nulis , tidak tahu apa yang harus ditulis, tapi yang pasti aku sekarang telah menggoreskan tinta hitam ini dalam kertas putih yang secara sukarela dan ikhlas membiarkan tubuhnya yang putih bersih dan suci mulai terdapat goresan-goresan hitam dari pena yang aku punya.
Tangan ini pun terus menulis dan menulis apapun yang ingin dia tulis .namun ternyata antara tangan dan otakku tidak sinkron ,inginnya tangan tetap nulis tapi pikiran udah stag tidak ada pikiran lagi mau nulis apa jadi udah dulu ya berhenti dulu ya.Tapi aku ada sebuah puisi yang barusan aja aku buat. Dibaca ya
Pergi kembali
Sekian lama kau kembali dan sekarang pergi
Meninggalkanku sendiri dalam sepi
Bagaikan sebuah senapan yang mati tanpa amunisi
Menyisakan sebuah angan dan lentera harapan yamng kecil dalam hati
Tapi kasih…………………
Aku harap kau paham kau tahu dan kau mengerti
Hati ini tak pernah melupakanmu
Walaupun kau jauh dibalik tugu dan seberang perahu
Cinta ini akan selalu memberikan hangatnya untukmu
Kasih……………
Kau begitu cantik dan mempesona hati
Kadang keegoisanku muncul tuk memiliki
Ya memiliki dirimu seorang diri.
Hanya untuk diriku sendiri tak mau berbagi
Sayang………..
Jagalah kencantikan titipan itu
Jangan biarkan tangan jahanam menyentuhmu
Dengan alasan apapun jangan pernah biarkan menjamahmu
Panjangkanlah jilbabmu
Tundukkalah pandanganmu
Karena matamu yang lentik itu sungguh mempesona
Tiada manusiapun yang tahan dari pesona mata
Lantunkanlah kalam dan firman itu dengan bibirmu yang sensual dan menawan itu
Buatlah hati setiap pendengarnya tenang dan mengingat sang pemilik kehidupan
Yang terkasih…………..
Biarkanlah air wudhu itu merayap dari ujung kepalamu menuju pipi yang mulus itu, hidung yang mancung itu, wajah yang menawan, tangan yang gemulai, dan tubuh yang aduhai
Hingga kau siap menjadi pribadi yang bersih sehat dan cerdas yang akan serlalu siap tuk menjadi ladang bagi suamimu.
Siap berperan sebagai Singa padang pasir yang membimbing generasi-generasi muda islam yang menjadikan quran dan hadist sebagai prinsip dan dasar pemikirannya.
Sayang…… Kaulah garda terdepan
Kau yang paling depan
Kau sungguh mempesona dan menarik jiwa
Gunakan pesona itu dan jaga biar abadi sampai kelak di kehidupan abadi
Salam sayang dari sang pemimpi dan pencinta
Sebuah goresan untuk siapapun yang sedang ingin lepas dari rutinitas sejemak. Setelah dipikir pikir aku menulis ini buat siapa ya.kembali pertanyaan awal tadi terucap. Namun saat ini kau sedang tak ingin bercuhat ria.hany sebuah angan dan impian tuk menjadi ya gpribadi muslim yang berkualitas.dengan mengamalkan yan gdiperintahkan dan menjauhi yang dilarang.
By Rein
Langganan:
Postingan (Atom)