Senin, 08 November 2010

Anganku

Dan berjuang pun tak terhenti
Walau sakit menyiksa diri
Karena telah terpatri
Demi kehidupan hakiki yang abadi
Berjalan dengan penuh harapan
Ada jalan ada tujuan
Tujuan utama setiap insan
Menjadi orang yang paling terdepan
Dalam setiap kesempatan
Berlomba-lomba dalam kebaikan
Memang unik kehidupan
Kadang di haluan kadang diburitan
Tinggal siapa yang bagus dalam pandangan
Yang kan berhasil gapai tujuan
Gadis kecil berjalan pelan
Dengan lambat memegang nampan
Berkeliling mencari rizki
Tak pernah ada luh mengalir di pipi
Senantiasa tersungging lesung pipit menawan hati
Walau kehidupan telah renggut tak peduli
Bahkan untuk makan sehari
Tak cukup berkeliling bermil-mil menyusuri
Namun lesung pipit menawan hati tersungging manis di kedua pipi
Coba tengok kita kawan
Lihat kamu kawan
Menghadapi masalah yang kecil
Kau sudah frustasi
Masalah besar kau bunuh diri
Mau jadi apa bangsa ini kalau pemudanya kayak gini
Tiada rasa percaya diri
Yang ada hanya mimpi dan hanya sekadar mimpi
Sebuah ironi ya sebuah ironi
Tak bisakah kau ambil dari gadis kecil pembawa nampan berlesung pipi?

Al-fajr

Demi fajar
Demi malam yang sepuluh
Demi yang genap dan yang ganjil
Demi malam yang berlaluh
Adakah dalam itu sumpah bagi orang-orang yang berakal?
Tidakkah engkau memeperhatikan bagaimana tuhanmu berbuat terhadap ‘ad?
Penduduk iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
belum pernah dibangun , di negeri-negeri
terhadap kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah
Terhadap fir’aun yang mempunyai pasak-pasak
Berbuat sewenang-wenang di dalam negeri
Berbuat kerusakan didalam negeri
Karena itu tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka
Sungguh, tuhanmu benar-benar mengawasi
manusia, apabila tuhan mengujinya lalu memuliakannya, dia berkata”tuhanku telah memuliakanku”
bila tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata,”tuhanku telah menghinaku”
Sekali-kali tidak!bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim
Kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin
Sedangkan kamu makan harta warisan dengan cara mencampurbaur
Kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan
Sekali-kali tidak!apabila bumi di guncangkan berturut-turut
Datanglah tuhanmu beserta malaikat yang berbaris-baris
Neraka jahanam diperlihatkan
Tersadarlah manusia,
Namun Tiada berguna sadar mereka
Dia berkata,”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini”
Maka pada hari itu tak kan ada seorangpun yang mengazab seperti azabNya
Tak ada yang mengikat sekuat ikataNya
Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah pada tuhanmu dengan ridho dan ridha-Nya
Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Masuklah ke dalam surge-Ku

Pelan dan pelan

Ku jadikan kau tujuan
Tuk menjaga harapan agar terus bertahan
Namun mengapa diri ini sekarang seakan lemah tak bernyawa
Inginnya hanya enaknya saja
Bermimpi besar namun hanya mimpi
Tak mau berusaha mewujudkannya
Sungguh aneh memang
Lelaki muda dulu telah menjadi renta
Perempuan muda yang dulu telah hilang mudanya
Telah berakhir semua angan
Karena bentar lagi ajal kan jemput
Maukah kau seperti itu wahai generasi muda
Mati terpuruk tanpa prestasi tak dipedulikan dan ditinggalkan
Generasi muda yang penuh dengan obsesi dan gairah
Telah menjadikan hidup yang lengah
Mereka lengah dan ogah
Konyol

Memang konyol
Generasi harapan malah gak punya harapan
Maka perjuangan ini harus diberikan kepada siapa
Tonggak estafet harus dipercayakan kepada siapa
Mungkin ini memang kesalahanku
Karena tak meberikan pembelajaran yang bagus kepada kalian
Kalian teruslah menyalahkan aku
Karena memang aku salah disini
Namun lihatlah kalian
Apakah pantas kalian menyalahkan orang lain
Kalau kalian sendiri yang sebanarnnya melakuakn kesalahan juga
Ya begitulah manusia
Manusia ya begitu

Menunggu

Menunggumu bagaikan batu
Bak pelita tak berdaya
Menangis hingga air mata kering
Tak membuatmu berkutik
Detik berganti menit
Menit meninggalkan jam
Hingga mata terpejam
Kau masih tak bergumam
Tetap dengan pendirian konyolmu itu
Tau kah kau kau itu telah ditipu
Kau telah tertipu
Semua orang tahu tapi kenapa kau tak mengetahui
Semua orang mengerti
Tapi kenapa kau tak peduli
Terus lari dan lari dari kebenaran yang hakiki
Tak akan pernah selesai masalah putri
Ketika kau lari masalah itu kan mengikuti
Batu bagi pelita tak berdaya.

CATATAN PERJALANAN

Pagi yang cerah namun sedikit berkabut menyambutku ketika diri ini mulai kembali mengumpulkan ruh-ruh jiwa yang semalaman telah berkelana masing-masing dengan segala angan dan mimpi yang menemani. Alunan merdu dari Chrisye yang menyanyikan sebuan baitnya yang merdu “Damai bersama-Mu” membuat diri ini kembali mengingat arti dari perjalanan ini. Perjalannan panjang yang harus ditempuh setiap insan manusia yang sudah beranjak dewasa.
Lantunan yang begitu merdu membuat hati ini damai rasanya menikmati indahnya pagi ini. Setelah semalaman mayapada ini terguyur hujan dengan derasnya membuat semakin sejuk udara di desaku tempat aku berpijak sekarang . Lari dari rutinitas untuk sekadar istirahat sejenak dari segala kepenatan sebelum kembali kedalam rutinitas yang menyenangkan namun kadang menyisipkan sakit di dalam hati. Heeeeee…………….melankolis banget sih…………jiwa kejantananku protes nih. Tiba-tiba tangan ini ingin menulis, pokoknya nulis , tidak tahu apa yang harus ditulis, tapi yang pasti aku sekarang telah menggoreskan tinta hitam ini dalam kertas putih yang secara sukarela dan ikhlas membiarkan tubuhnya yang putih bersih dan suci mulai terdapat goresan-goresan hitam dari pena yang aku punya.
Tangan ini pun terus menulis dan menulis apapun yang ingin dia tulis .namun ternyata antara tangan dan otakku tidak sinkron ,inginnya tangan tetap nulis tapi pikiran udah stag tidak ada pikiran lagi mau nulis apa jadi udah dulu ya berhenti dulu ya.Tapi aku ada sebuah puisi yang barusan aja aku buat. Dibaca ya
Pergi kembali
Sekian lama kau kembali dan sekarang pergi
Meninggalkanku sendiri dalam sepi
Bagaikan sebuah senapan yang mati tanpa amunisi
Menyisakan sebuah angan dan lentera harapan yamng kecil dalam hati
Tapi kasih…………………
Aku harap kau paham kau tahu dan kau mengerti
Hati ini tak pernah melupakanmu
Walaupun kau jauh dibalik tugu dan seberang perahu
Cinta ini akan selalu memberikan hangatnya untukmu
Kasih……………
Kau begitu cantik dan mempesona hati
Kadang keegoisanku muncul tuk memiliki
Ya memiliki dirimu seorang diri.
Hanya untuk diriku sendiri tak mau berbagi
Sayang………..
Jagalah kencantikan titipan itu
Jangan biarkan tangan jahanam menyentuhmu
Dengan alasan apapun jangan pernah biarkan menjamahmu
Panjangkanlah jilbabmu
Tundukkalah pandanganmu
Karena matamu yang lentik itu sungguh mempesona
Tiada manusiapun yang tahan dari pesona mata
Lantunkanlah kalam dan firman itu dengan bibirmu yang sensual dan menawan itu
Buatlah hati setiap pendengarnya tenang dan mengingat sang pemilik kehidupan
Yang terkasih…………..
Biarkanlah air wudhu itu merayap dari ujung kepalamu menuju pipi yang mulus itu, hidung yang mancung itu, wajah yang menawan, tangan yang gemulai, dan tubuh yang aduhai
Hingga kau siap menjadi pribadi yang bersih sehat dan cerdas yang akan serlalu siap tuk menjadi ladang bagi suamimu.
Siap berperan sebagai Singa padang pasir yang membimbing generasi-generasi muda islam yang menjadikan quran dan hadist sebagai prinsip dan dasar pemikirannya.
Sayang…… Kaulah garda terdepan
Kau yang paling depan
Kau sungguh mempesona dan menarik jiwa
Gunakan pesona itu dan jaga biar abadi sampai kelak di kehidupan abadi
Salam sayang dari sang pemimpi dan pencinta
Sebuah goresan untuk siapapun yang sedang ingin lepas dari rutinitas sejemak. Setelah dipikir pikir aku menulis ini buat siapa ya.kembali pertanyaan awal tadi terucap. Namun saat ini kau sedang tak ingin bercuhat ria.hany sebuah angan dan impian tuk menjadi ya gpribadi muslim yang berkualitas.dengan mengamalkan yan gdiperintahkan dan menjauhi yang dilarang.
By Rein

Surat cinta tuk sang kekasih

kasihku............
bidadariku............
tatkala kau sunggingkan senyummu
senyum, berlesung pipit itu
bertambah sayang diri ini padamu
terngiang, terbayang, tak terbantahkan kecantikanmu
bidadariku..............
inginkah kau tahu???
kecantikanmu bisa abadi
maukah kau tahu???
dewiku......
jagalah wudhu dalam hidupmu
biarkan air wudhu itu mengalir membasahi tiap lekuk wajahmu yang manis itu
basahi bibirmu yang merekah itu dengan lantunan ayat suci al-quran
tegakkanlah sholat dalam setiap waktumu
biarkan sholat menjalari tubuhmu yang indah itu hingga kau tak pernah punya rasa untuk meninggalkannya walaupun sebentar.
bidadariku................
bagilah kebahagiaanmu dengan orang disekitarmu
jangan biarkan soarang menyentuhmu
kecuali mahram dan jenismu
niscaya permata indah tubuhmu tak akan kusam
akibat jahil tangan bajingan disekitarmu
dewiku..........
tundukkanlah pandanganmu
janganlah kau obral kecantikanmu
panjagnkanlah jilbabmuhingga tak nampak lekuk tubuhmu
bidadariku........
janganlah menangis
terlalu sayang air matamu tuk tangisi dunia yang fana dan hina ini
simpanlah tangismutuk bermunajat pada rabbmu
pada sepertiga malam terakhir
mengurangi waktu tidurmu.
cintaku...............
berjalanlah di muka bumi dengan sederhana
janganbiarkan kecantikanmu menambah kesombnganmu
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan lagi menyombingkan diri.
sayangku..............
cintaku....................
bidadariku..................
dewiku...............................
maafkanlah pencintamu ini yang hanyabisa menulis tulisan ini
tanpa pernah berani menyatakan langsung padamu
dunia kita sekarng berbeda
aku disini dan kau disana
dewiku
namun bila kau percaya pada jiwa dan tubuh yang ringkih dan hina ini maka tunggulah 4 tahun 4 bulan
kan kukirimkan proposal padamu
jangan kau tinggalkan agamamu demi duniamu
tegakkan sholatmu,tunaikan zakatmu,jalankan puasamu bacalah kitabmu,berhajilah bila mampu
semoga abadi disrga kelak bersama cinta sejatimu.
sebuah surat cinta untuk sang terkasih.

Sunyi

malam yang sunyi berselimut mimpi mengantar angan menuju alam tak bertuan
berselimutkan senyap dan udara yang agak pengap namun berhawa dingin dan kuat bagai beringin
kaki kecil tak kuasa melangkah
langkah-langkah patah
bersemayam dalam darah
mengharap sebuah anugrah

memang malam itu gelap tapi tak segelap hatiku sekarang
tak menghiraukan pendapat orang
yang ada hanya perang dan perang
karena telah terdengar suara genderang

telah lama hati ini pergi
mencari jati diri namun tak kunjung kembali
untuk mengerti dan memahami
arti hidup ini

sungguh malam telah semakin larut
namun hati terlena lupa akan maut
yang senantiasa siap untuk menjemput

Surya tenggelam

kala senja terbenam dan mentari berangkat menuju peraduan
menyisakan sebuah angan dan harap tuk esok hari
berharap tuk terus terbang angan berlari menembus pekatnya malam
yang semakin kelam dan semakin dalam
hati terasa sakit dan menyisakan perih
hingga sakitnya kaki yang tertatih
namun tak ada tanda-tanda tuk segera pulih
hingga tak peduli orang-orang menyruhku beralih

Datang seorang gadis kecil berpakaian camping
merengut dan sedih bepegang tangan pada kuping
tubuh hitam kelam berbalut putihnya gamping
sangat kurus dan jauh tuk katakan ramping

berjalan pelan dan semakin pelan
perlahan mendesah sangat-sangat pelan
merintih sakit bagaikan dijatuhkan badannya dua bukit

pertanyaan ya pertanyaan muncul dalam diri
yang semakin hari semakin tak peduli
dan semakin jauh dari jati diri
jangan berharap punya idealisme mereka
arti idealisme aja tak tahu mereka

apa-apa sobat apa????????????
senja hari sedang apa kau sobat????????
sudah selesaikah amnahmu disini hingga kau tak peduli sekitarmu?
masih ada gadis kecil yan gdatang padamu
tegakah dikau meningalkannya sendiri dalam sepi di dunia yan gsemakin hari semakin keji dan tak berperi ini.


apakah kau merasa paling capek??????????
apakah kau amersa sudah melakukan semuanya???????????
mungkin hanya ini yang bisa dilakukan

haaaaahaaaaaaaahaaaaaaaaahaaaaaaaaahaaaaaa
aku sudah capaek sudah terlalu banyak aku menabung kebaikan.


tapi sadarlah kawan gara-gara kau berpaling dari gadis kecil tadi jarka surga yan gtinggal sejengkal akan berubah menjadi beratus2 mil kembali.bahklan kau nbisa terlempar dalam api abadi.

Gundukan itu menangis

Pagi menjelang mentari terbang ke atas bahana
Memancarkan sinar merah kekuningan di pojok timur, ketara
Sungguh ketara seakan malu tinggal wacana
Baskara itu dengan tenang melenggak lenggok mulai menaiki singgasana
Tahukah kau kawan
Ssssssttttttttttttttttt coba dengar
Sayup-sayup terdengar erangan-erangan kecil dan semakin lama-semakin terdengar
Sesenggukan yang meyayat hati
Perlahan namun pasti luh itu meleleh
Meleleh, bagai sebatang lilin terbakar dan leleh
Leleh meleleh dengan leleh yang berleleh dan melelehkan
Tak terbendung bagai bendungan yang membendung Niagara
Melebihi besarnya sebuah Negara
Namun tak kuasa untuk berusaha
Hanya terpana dan terpana
Membiarkan luh itu mengalir deras menuruni pipi yang mulai tidak mulus itu
Pipi yang mulai berlubang karena melongsor disana-sini
Dan aliran itu semakin turun semakin deras
Menerabas apa-apa
Tak peduli diri, sawah, rumah,ladang, orang bahkan kerbau sapi dan ayam tak terhindari
Menggenang ya menggenang dalam genangan yang besar dan membesar
Bertanya kau hanya bisa Tanya
Tentang semua ini
Tentang genangan ini
Tentang tangisan ini
Tentang musibah ini
Saat orang kerbau dan sapi berada dalam keadaan sama
Bukalah matamu
Buka telingamu
Buka mulutmu
Jangan hanya tidur
Jangan kau tutup kuping itu
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Lihatlah kawan
Hijau nan luas itu tlah tiada
Dengarlah sobat
Gundukan itu kini sedang menangis dan tangisannya sungguh menyesakkan hati siapapun
Bicaralah brother
Suaramu sungguh diperlukan
Mari kita hijaukan lagi bumi ini jangan biarkan tangis membara
Senyum itu harus tersungging
Dan bersanding
Laksana seekor gajah bergading
Tak perlu bergunjing
Tak perlu panjang berunding
Sekarang atau mati kemudian
By Ren’s

Hadapi Hidup

Hadapi hidup dengan hidup
Dengan hidup hadapi hidup
Hidup hadapi hidup dengan
Hidupku bukan hidupmu hidupmu bukan hidupku
Hidupmu hidupmu
Hidupku hidupku
Hidup jangan mati gak mau
Mati jangan hidup gak mau
Jangan mati-mati jangan hidup hidup
Jangan hidup jangan mati
Hidup mati jangan
Hadapi hidup dengan hidup
Hidup berhidup-hidup dengan hidup dihidupi
Hadapi hidup dengan hidup dengan hidup hadapi hidup
Hidup
Mati
Hidup dengan hidup dihidupi
By Ren’s

Cinta

Kawan dengarlah suara ini
Teman mari kita bicara ini
Bukan yang itu atau ita tapi ini
Cinta
Lima huruf penuh makna
Membuat orang senang tiada tara
Namun tak jarang tinggalkan nestapa
Menderita dan tak tersisa
Coba jawab kasih
Apakah ini benar-benar cinta sejati seperti yang kau katakan
Saat yang kau cinta telah hilang yang membuat kau cinta
Kau pergi tinggalkannya
Saat cinta kau ada masalah kau bersembunyi
Saat sudah kau teguk nikmat cintanya kau mulai campakkannya.
Dan kau merasa tak pernah bersalah
Atau sekadar membuatnya marah.
Jawab boy jawab girl
Tahukah kau cinta sejati tu milik siapa

Cerita pagi

Pagi mentari tertegak dalam pembaringan
Berikan harpan setiap insane
Berupa angan dan impian
Anak kurus pun mulai bangun terpejam
Menikmati hidup penuh kejam
Bersilat bergelut bergumul pisau tajam
Mentari coba mengurai kabut
Agar anak kurus tidak tekejut
Tak ingin buat hati jadi kalut
Dan sayangtuk jadi pengecut
Anak kurus membuka mata menatap taja pada dunia
Yang serasa tak adil buat dirinya
Benarkah adanya?
Atau ini hanya akal-akalna manusia
Serakah dan penuh tipu daya
Apa katamu/apa katamu?
By Ren’s

Malam

Malam dingin menyelimuti hati yang selalu tersakiti
Berharap ada yang menemani
Namun nampaknya hanya sekadar mimpi
Nun jauh disana, hawa, sang idaman menanti
Begitu cantik menawan dan mempesona hati
Berbunga hati ini melihat lesung pipit di pipi
Menambah indah bidadari yang selalu kupandangi
Memandang dari kejauhan ya dari kejauhan
Gembira, semngat, pengalaman pertama muncak kau nikmati dengan rasa bak pasukan berani mati
Dan akupun bersenang hati ditiap langkahku
Dengan terusn memandang wajah cantik nan menarikmu
Sungguh sempurna Allah menciptakannya
Adakah dia untukku?mungkinkah????
By Ren’s

Langkah kecil

Melangkah dalam gelap
Tak nampak langkah berderap
Namun hati berdegap-degap
Tak jenak mata menatap
Hati pun terheran-heran
Kaki melangkah semakin pelan
Hati kecil hilang harapan
Tak siap akan perubahan
Pelan dan semakin pelan
Pikiran mulai kalang kabut
Mimpi-mimpi terserabut
Angan telah tercabut
Jatuh dalam lubuk
Tubuh menjadi mabuk
Hati pun remuk
Melangkah dalam gelap, tak nampak langkah berderap
Hati berdegap-degap, tak jenak mata menatap.

Dihari ini

Senja mulai menggelayuti malam
Dan malam semakin kelam
Tubuh ini semakin tenggelam dalam lelah capek tak tertahan dalam

Lelah Capek

Keringat berbulir-bulir menggelinding
Panas menyengat bersangat-sangat
Remuh tubuh hancur dan rapuh
Seharian beban berbeban-beban
Tak pernah berhenti tuk semedi
Gelora-gelora jiwa raga dan usaha
Pentang menyerah tak katakan kalah
Ekonomi, bisnis, politik dibiki tak berkutik
Tunduk takluk
Oleh jiwa energik
Meeting, rapat, syuro dilalui sampai satu suro
Tet……tet…..tet……teeeeeeeeeeeet…….teeet.tet………tet……tet
Message datang penggilan mengundang
Mohon kehadirannyadalam rapat
Persiapan pernikahan sapai di kandang sapi jam 15.00
Tepat Urgen Amniyah
Lari-lari berlari berputar berjalan
Namun sayang hanya ini yang tersisa

Aliran Dingin

Merayap pelan dalam senyap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Gadis kecil berselimut dan meratap
Tersengal-sengal hirupan oksigen Seakan udara hanya nitrogen
Sungguh dingin beraksi laksana hydrogen
Tak sehangat panasnya kursi presiden
Gemeratuk tuk….tuk…tuk…. susunan rapi
Sampai terbawa dalam mimpi
Mimpi tak bertepi angan dan imajinasi Bukan seperti politisi negeri
Segumpal daging penuh ambisi dan emosi
Menarik sedikit kain sang gadis
Kain menutup kaki pun membuka kepala
Menutup kepala kain membuka kaki
Tak tergubris kawan tak tergubris
Tenang tidak diangkut masuk teralis Dalam dunia sadis dan bengis
Gadis kecil berselimut dan meratap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Merayap pelan dalam senyap

gelapnya malam

Gelapnya malam tak segelap hatiku
Andai kau tahu itu kawan
Merahnya wajahku tak semerah hatiku
Andai kau tahu itu teman
Dan andai kau tahu kawan
Aku pun muak saat harus mengakui itu
Karena kawan Karena kawan
Berarti aku telah bongkar rahasia pribadi
Maka kawan maka kawan
Bersiaplah kau mati ditanganku
Camkan kata-kataku
Lihatlah kawan lihatlah teman
Betapa egonya aku
Siapa yang salah siapa yang aak aku bunuh
Lihatlah egoku kawan
Kau tak salah kawan
Tak pantas kau tuk ku bunuh
Hanya aku yang harus membunuhku