Senin, 08 November 2010

Gundukan itu menangis

Pagi menjelang mentari terbang ke atas bahana
Memancarkan sinar merah kekuningan di pojok timur, ketara
Sungguh ketara seakan malu tinggal wacana
Baskara itu dengan tenang melenggak lenggok mulai menaiki singgasana
Tahukah kau kawan
Ssssssttttttttttttttttt coba dengar
Sayup-sayup terdengar erangan-erangan kecil dan semakin lama-semakin terdengar
Sesenggukan yang meyayat hati
Perlahan namun pasti luh itu meleleh
Meleleh, bagai sebatang lilin terbakar dan leleh
Leleh meleleh dengan leleh yang berleleh dan melelehkan
Tak terbendung bagai bendungan yang membendung Niagara
Melebihi besarnya sebuah Negara
Namun tak kuasa untuk berusaha
Hanya terpana dan terpana
Membiarkan luh itu mengalir deras menuruni pipi yang mulai tidak mulus itu
Pipi yang mulai berlubang karena melongsor disana-sini
Dan aliran itu semakin turun semakin deras
Menerabas apa-apa
Tak peduli diri, sawah, rumah,ladang, orang bahkan kerbau sapi dan ayam tak terhindari
Menggenang ya menggenang dalam genangan yang besar dan membesar
Bertanya kau hanya bisa Tanya
Tentang semua ini
Tentang genangan ini
Tentang tangisan ini
Tentang musibah ini
Saat orang kerbau dan sapi berada dalam keadaan sama
Bukalah matamu
Buka telingamu
Buka mulutmu
Jangan hanya tidur
Jangan kau tutup kuping itu
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Lihatlah kawan
Hijau nan luas itu tlah tiada
Dengarlah sobat
Gundukan itu kini sedang menangis dan tangisannya sungguh menyesakkan hati siapapun
Bicaralah brother
Suaramu sungguh diperlukan
Mari kita hijaukan lagi bumi ini jangan biarkan tangis membara
Senyum itu harus tersungging
Dan bersanding
Laksana seekor gajah bergading
Tak perlu bergunjing
Tak perlu panjang berunding
Sekarang atau mati kemudian
By Ren’s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar