Senin, 27 Desember 2010

AGRESI OPSEL DI PERBATASAN INDONESIA

Oleh: Fajar Marendra

Indonesia, salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, terkenal sebagai zamrud khatulistiwa dengan wilayahnya yang sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Talaud dan kandungan sumber daya alam yang melimpah disetiap jengkal wilayahnya menjanjikan sebuah harapan akan kesejahteraan yang memadai untuk orang-orang di dalamnya secara keseluruhan maupun bagi orang-orang yang berada disekitarnya.
Namun telah menjadi rahasia umum, negeri yang begitu besar potensinya ternyata masih belum bisa menjamin kesejahteraan bagi masyarakat di dalamnya secara optimal, terbukti dari adanya kesenjangan secara ekonomi antara daerah satu dengan daerah yang lain, terutama daerah-daerah perbatasan di Indonesia. Tentu kita masih ingat beberapa kasus yang menimpa daerah perbatasan kita,seperti pulau Sipadan dan Ligitan, Blok Ambalat, perbatasan antara NTT dengan Timoer Leste. Hal itu hanyalah sebagian kecil dari masalah-masalah yang timbul di daerah perbatasan yang sering tak kita perhatikan karena memang mereka berada jauh sekali dari tempat kita berdiri sekarang, kalaupun kita memperhatikan mereka hanyalah karena kita latah saat timbul masalah disana, selebihnya kita tak pernah menghiraukannya.
Pernyataan di atas bukanlah sebuah justifikasi bahwa masalah-masalah yang timbul di perbatasan merupakan kesalahan dari satu pihak. Titik tekan dari hal yang dikemukakan diatas ialah mengenai bagaimana cara meminimalisasi atau menyelesaikan masalah yang telah timbul ini. Kita harus dapat menemukan akar dari masalah ini untuk kemudian kita selesaikan dengan berbagai kemungkinan yang bisa kita lakukan sehingga kedepannya, Bangsa Indonesia akan semakin menjadi bangsa yang besar di dunia.
Perlu dipahamkan disini, bahwa keberadaan dari wilayah perbatasan merupakan hal yang sangat urgen untuk diperhatikan oleh sebuah negara karena berhubungan dengan kedaulatan negara dan keberlangsungan hidup dari negara itu sendiri. Mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan memiliki daerah terluar yang berbatasan langsung dengan banyak negara tetangga maka sudah sewajarnya bila Indonesia memberikan space khusus untuk pengelolaan daerah perbatasan. Hal ini bukanlah semata-mata peran pemerintah selaku penyelenggara negara namun juga pihak-pihak yang secara kemampuan berpotensi untuk turut ambil bagian dalam pengelolaan daerah perbatasan ini. Salah satu pihak yang sangat berpotensi besar dan akan memberikan sumbangsih yang signifikan ialah OPSEL (Operator Seluler) atau biasa dikenal dengan operator telekomunikasi, namun agar lebih enak kita memperbincangkanya maka untuk selanjutnya kita akan memakai istilah OPSEL, yang sekarang sedang menimbang-nimbang untuk meluaskan pangsa pasarnya di daerah perbatasan Indonesia melalui agresi OPSEL.
Untuk mengetahui alasan dan sejauh mana agresi OPSEL berperan dalam pengelolaan daerah perbatasan, maka saya mengikuti sebuah alur dari metode analisis sosial yang sempat saya dapatkan dalam sebuah training, walaupun tidak sepenuhnya namun cukup untuk memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara pengelolaan daerah perbatasan dengan agresi OPSEL. Keterkaitan ini akan disajikan dalam beberapa bagian yang kemudian menyatu dan berpadu menbentuk sebuah alur yang dinamik dan artistik. Akar masalah timbul, momen agresi yang tepat, tantangan di depan mata, dukungan kekuatan, saatnya bergerak cepat, merupakan bagian-bagian yang menarik untuk menggambarkan keterkaitan antara keduanya.

Akar masalah timbul

Sebenarnya apakah yang menjadi akar permasalahan dari terjadinya berbagai hal yang menyangkut daerah perbatasan ini? Mungkin sebagian dari kita sudah tahu, hanya satu kata dan terdiri dari sepuluh huruf, KOMUNIKASI.
Komunikasi yang bagaimana? Timbul sebuah alur komunikasi yang tidak efektif antara daerah perbatasan dengan pemerintah pusat, keluhan-keluhan, kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat perbatasan jarang yang sampai ke pemerintah pusat dalam keadaan utuh, bahkan tak jarang aspirasi mereka tak pernah sampai ke pemerintah pusat. Sementara pemerintah pusat yang notabene tidak mengetahui secara langsung keadaan yang sebenarnya di daerah perbatasan, menganggap tidak terjadi masalah di daerah perbatasan karena tidak adanya laporan yang masuk ke pemerintah pusat. Ini merupakan contoh kecil dari akar masalah yang disebutkan.
Komunikasi merupakan kebutuhan primer keempat setelah sandang, pangan, papan disadari atau tidak. Dengan dan dalam komunikasi, dunia makna terbentuk, gagasan lahir, inspirasi muncul dan perubahan demi perubahan berlangsung. Komunikasi lah yang mengutuhkan kelayakan hidup manusia sebagai makhluk sosial dan individual. Apabila kebutuhan akan komunikasi ini tidak terpenuhi secara proporsional maka otomatis akan menimbulkan dampak social yang tidak kecil efeknya bagi masyarakat itu sendiri
Secara tidak langsung dalam blognya Ahmad Musthofa Haroen menyatakan bahwa kesenjangan yang terjadi antara daerah perbatasan dengan pemeruntah pusat merupakan
“akibat dari ketiadaan dialog. Kesulitan melakukan dialog disebabkan adanya jarak psikologis, wilayah, waktu, atau kombinasi ketiganya. Dialog baru bisa terjadi jika ada mediasi. Di situ, identitas-identitas berhadapan bukan untuk saling dipertentangkan, tapi belajar untuk saling memahami. Dalam konteks yang lebih luas, berbagai konflik identitas yang terjadi di Indonesia antara lain disebabkan kurangnya kesediaan membangun komunikasi yang intim dan hangat. Dalam konteks seperti ini, konvergensi selular memainkan peran penting. Jurang pemisah antar daerah, antar suku, dan antar agama kini sangat bisa didekatkan melalui konvergensi dan aksesibilitas selular. Dua atau lebih pihak semakin mungkin untuk saling belajar dan memahami dari sumber-sumber informasi yang terkait”
Melihat penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan bahwa memang KOMUNIKASI-lah yang menjadi akar masalah dari berbagai macam hal yang timbul di di daerah perbatasan. Pulau Sipadan dan Ligitan tak akan lepas dari kita andai kita menjaga komunikasi yang intim dan hangat dengan orang-orang yang ada disana, itulah yang mungkin dilakukan negara tetangga kita terhadap masyrakat kedua pulau itu sehingga akhirnya mereka memang merasa bagian dari negara tetangga kita itu, terlepas dari masalah teritori dll.
Hal itu lah yang menyebabkan agresi OPSEL mendapat bagian di sini karena memang KOMUNIKASI merupakan senjata utama OPSEL untuk menjalankan agresinya.

Momen agresi yang tepat

Agresi yang dilakukan oleh OPSEL di Perbatasan Indonesia melalui pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi bila dilakukan saat-saat sekarang merupakan momen yang tepat. Dikatakan tepat karena saat ini kebutuhan akan hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi sangat banyak dan memiliki kecenderungan yang terus meningkat setiap tahun. Data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang. Padahal, tingkat kepemilikan komputer hanya 2,5 juta orang. Meski internet juga diakses lewat jasa warnet (Warung internet), namun bisa diasumsikan bahwa dari 25 juta orang itu, jumlah pengguna selular menyumbang jumlah yang tak sedikit. Yang mengejutkan, jauh dari perkiraan Internet World Stats, InMobi memprediksi jumlah pengguna internet selular di Indonesia pada akhir 2010 akan mencapai 146 juta orang. Apakah benar prediksi dari InMobi ini, silahkan melakukan perhitungan sendiri.
Daerah perbatasan yang selama ini seakan-akan dianaktirikan ternyata merupakan pangsa pasar yang potensial. Wilayah Indonesia yang luas dengan wilayah perbatasannya menuntut sebuah sistem yang bisa mengakomodasi kebutuhan komunikasi antara daerah perbatasan dan pemerintah selaku penentu kebijakan. Komunikasi disini meliputi masalah pertahanan keamanan, perdagangan, jasa, diplomatik dll yang berhubungan langsung dengan kebutuhan orang banyak. Belum adanya pihak yang secara khusus dan fokus dalam pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi merupakan hal-hal yang memantapkan pergerakan dari agresi OPSEL ini.
Melihat kenyataan yang ada dewasa ini bahwa kemampuan jaringan dari OPSEL memang belum mencakup semua daerah terbukti pada daerah-daerah tertentu masih ditemukan spot-spot yang tidak ada sinyal, apalagi di daerah perbatasan yang biasanya berada di daerah-daerah pedalaman, ditengah hutan, atau di kepulauan padahal disana terdapat cukup banyak masyarakat yang haus akan kebutuhan komunikasi. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa wilayah agresi yang bisa digunakan sebagai pangsa pasar masih cukup banyak dan terbuka lebar untuk diperluas. Tentu dengan sebuah keberanian yang cukup dari Operator telekomunikasi yang ada di Indonesia untuk menerima tantangan ini maka operator telekomunikasi ini akan menjadi operator telekomunikasi yang besar karena efek dari serius dalam pengelolaan daerah perbatasan ini bersifat berantai. Satu hal akan menimbulkan hal yang lain,begitu seterusnya.
Maka benarlah jika dikatakan sekarang adalah momen yang pas untuk menunjukkan eksistensi operator telekomunikasi dan wujud cinta tanah air dalam menjaga kedaulatan Indonesia melalui pemberdayaan daerah perbatasan.

Tantangan di depan mata

Bukan tanpa alasan mengapa sampai saat ini masih terdapat daerah-daerah yang belum tersentuh jaringan telekomunikasi milik operator telekomunikasi. Hal ini terjadi karena memang biaya yang harus ditanggung oleh pihak operator telekomunikasi untuk membangun jaringan dan menyediakan layanan jasa di daerah perbatasan tidaklah sedikit, bahkan lebih murah bila membangun di daerah pekotaan atau pinggiran kota. Membangun jaringan di daerah perbatasan cukup sulit karena menyangkut akses menuju daerah itu, tenaga kerja yang tersedia, bahan-bahan yang tersedia dll yang apabila tidak dipikirkan secara matang, yang didapatkan bukan keuntungan seperti yang didambakan melainkan kerugian yang besar.
Inilah yang harus dijawab oleh para operator telekomunikasi. Sebuah tantangan yang apabila berhasil diatasi kesuksesan yang besar akan diraih. Nampaknya telah ada beberapa operator telekomunikasi yang mencoba menjawab tantangan ini dengan membangun banyak jaringan di wilayah Indonesia. Walaupun belum dilaksanakan secara menyuluruh di wilayah Indonesia namun paling tidak sudah terdapat OPSEL yang berusaha mendekat kea rah yang dimaksud.
Dari hal diatas membuktikan bahwa masih banyak pangsa pasar potensial yang belum dikelola secara menyeluruh yang berarti merupakan sebuah kesempatan bagi OPSEL-OPSEL yang lain di Indonesia. Semakin banyak OPSEL yang sadar akan strategi ini maka selain OPSEL-OPSEL itu yang mendapat untung masyarakatlah yang akan mendapat keuntungan yang signifikan karena semakin banyak pilihan sehingga masyarakat dapat memilih mana yang lebih baik dan cocok untuk kebutuhannya.
Tantangan harus segera dijawab dengan suatu tindakan nyata “AGRESI OSPEL DI PERBATASAN INDONESIA” karena tindakan ini akan memberikan efek domino kepada kegiatan masyarakat. Semakin berkembang masyarakat maka kebutuhan akan kemunikasi akan semakin besar dan besar. Hal ini tentu menguntungkan OPSEL selaku pengelola komunikasi.
Dengan menjalankan tindakan ini maka OPSEL telah membantu masyarakat untuk membentuk jurnalisme warga. Jurnalisme warga penting artinya karena tidak setiap peristiwa yang bernilai publik bisa dijangkau oleh kerja jurnalis profesional. Jurnalisme warga merentang luas dari sisi verbal, audio, dan visual. Pokoknya, tiap kali menjumpai sebuah peristiwa yang layak untuk diketahui publik, anda berkesempatan menjadi jurnalis-warga—siapapun dan apapun latar belakang anda.
Walaupun secara faktual kebutuhan akan jaringan komunikasi di daerah perbatasan untuk saat ini berada pada level yang tinggi, hal ini tidak lantas membuat OPSEL memiliki keleluasaan untuk dengan seenaknya membangun jaringan pada suatu daerah. Mereka harus tetap melakukan koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait, terutama dengan masyarakat yang ada disana,yang merupakan pangsa pasar dari OPSEL itu sendiri, mereka harus bisa memahami kultur yang ada dalam masyarakat yang tentu saja berbeda dengan kultur masyarakat perkotaan. Disini diperlukan kepekaan yang tinggi untuk masuk dalam struktur kemasyarakatan yang ada. Sebuah tantangan tambahan bagi operator telekomunikasi.

Dukungan kekuatan

Saya kira semua setuju kalau dikatakan bahwa perkembangan industri seluler atau telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini bahkan patut untuk dijadikan sebuah babak penting dalam sejarah Indonesia. Hal itu terjadi karena beberapa hal, diantaranya disadari atau tidak industri seluler telah mengubah dan memperbarui pola-pola kemunikasi dan informasi yang berkembang di masyarakat. Problem jarak dan waktu yang ada dalam pola komunikasi tradisional telah dimudahkan dengan komunikasi selular. Perlu diketahui bahwa bila suatu system komunikasi berjalan dengan baik maka akan berdampak positif pada aspek-aspek kehidupan yang lebih luas karena memang komunikasi merupakan hal utama menyangkut hubungan antara satu orang dangan orang lain. Jumlah pelanggan seluler yang mencapai angka fantastis menjadi hal berikutnya yang menjelaskan alasan patutnya perkembangan industry seluler menjadi babak penting dalam sejarah Indonesia. Merujuk data Wireless Intelligent, pengguna selular di Indonesia mencapai 116.144.392 orang. Ini hampir separuh dari jumlah penduduk Indonesia! Maklum, pada level konsumen, produk selular memang relatif lebih terjangkau. Kini, berbekal uang 300-an ribu saja, seseorang bisa memiliki telepon genggam dengan fasilitas internet. Tarif selular yang murah kian memudahkan orang untuk saling terhubung satu sama lain. Lebih-lebih, teknologi selular kini mengalami konvergensi. Tak hanya terbatas pada fasilitas panggilan, SMS dan MMS, namun sudah merambah ke dunia virtual. Aksesibilitas dan konvergensi lalu menjadi kunci untuk memahami dan mengelola kebutuhan manusia modern yang haus akan kecepatan dan mobilitas.
Hal di atas menunjukkan bahwa memang masyarakat sangat membutuhkan jariangan komunikasi yang lancar dan handal dimanapun mereka berada dan akan mendukung setiap kegiatan yang menguntungkan mereka salah satunya ialah bila dibangun jaringan di daerah perbatasan, mengingat pada era sekarang hubungan antar manusia tak terbatas jarak, ruang dan waktu.
Dengan jaringan komunikasi yang handal dibarengi dengan aksesibilitas dan konvergensi teknologi seluler akan menyebabkan terjadinya hubungan timbak balik secara langsung antara pemerintah dengan rakyatnya. manakala hak-hak warganegara dan keadilan di depan hukum dilecehkan oleh lembaga atau individu yang seharusnya memanggulnya sebagai amanat, masyarakat dapat secara langsung menyampaikan keluhannya kepada pihak-pihak terkait atau mempublikasikanya ke ranah public guna mendapatkan dukungan. Apa yang sering disebut sebagai gerakan sosial kini lebih mudah dikonsolidasikan lewat jejaring virtual.
Teknologi memungkinkan publik tidak lagi menjadi obyek-pasif dari berbagai dinamika kenegaraan. Ketiga, teknologi ternyata mendorong pejabat publik untuk bersedia berkomunikasi dengan publiknya. Ada banyak contoh. Misalnya, Presiden SBY dan lembaga kepolisian di beberapa daerah yang menyediakan nomor khusus bagi pengaduan masyarakat lewat SMS. Contoh lain, nyaris seluruh lembaga publik merasa perlu untuk berkomunikasi dengan publik dengan membuat situs atau portal resmi. Sejumlah pejabat publik juga menjalin pertemanan maya dengan masyarakat luas melalui email, facebook, atau twitter.
Setelah melihat warga masyarakatnya, bagaimana dengan pemerintah menanggapi masalah ini secara kelembagaan? Ternyata dalam hal ini pemerintah telah memiliki pemikiran yang sama seperti yang diinginkan masyarakat. Terbukti dengan upaya pemerintah yang mencanangkan sebuah proyek raksasa yang berhubungan dengan komunikasi. Berdasarkan tulisan Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), Basuki Yusuf Iskandar, pada Desember 2007, “Perkembangan Teknologi Komunikasi”, rencananya akan dibangun megaproyek backbone yang bernama Palapa Ring. Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Diungkapkan, manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia adalah untuk :
1. Ketersediaan layanan komunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kota/kabupaten.
2. Efisiensi investasi yang akan mendorong tarif telekomunikasi semakin murah.
3. Terjadi percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong bertumbuhnya varian penyelenggara jasa telekomunikasi dan jasanya.
4. Keberadaan aplikasi seperti distance learning, telemedicine, e-government, dan aplikasi lainnya, dapat diimplementasikan hingga mencapai kota/kabupaten.
Investasi pembangunan Palapa Ring sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi anggota konsorsium, tidak ada dana yang berasal dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Berbeda dengan Palapa Ring, dana dalam proyek ini diperoleh dari prosentase keuntungan para operator yang wajib di setor ke pemerintah, ditambah dengan dana dari jastel (Depkeu) sebagai ICT fund.“Kewajiban USO dari industri awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 % untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi,” ungkap Dirjen Postel , Basuki Jusuf Iskandar, dalam pidatonya pada acara 2nd Annual Indonesia Internasional Summit 2009, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 11 November 2009.
Melihat kebutuhan masyarakat akan komunikasi dan kesungguhan dari pemerintah dan operator telekomunikasi dalam upaya peningkatan jaringan komunikasi di Indonesia, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung secara penuh usaha yang dirintis oleh pemerintah dan operator telekomunikasi diatas. Untuk operator telekomunikasi hal ini merupakan bukti riil dukungan penuh pemerintah dan masyarakat terhadap agresi OPSEL.

Saatnya bergerak cepat

Semua hal telah mengarahkan bahwa pembangunan jaringan telekomunikasi dan penyediaan jasa telekomunikasi di daerah perbatasan Indonesia harus benar-benar diperhatikan secara serius dan fokus sehingga dampaknya akan semakin cepat dirasakan oleh masyrakat selaku konsumen atau obyek yang secara langsung menerima dampak dari adanya pembangunan ini.
Kebutuhan masyarakat, dukungan pemerintah dan sokongan operator telekomunikasi telah menunjukkan bahwa pembangunan ini sudah sampai pada tahap pelaksanaan dan pengawasan yang harapannya bisa mempercepat proses pembangunan ini. Kerja keras, kerja cerdas, kerja cepat dan fokus dari semua pihak yang terkait mutlak diperlukan dalam membangun bangsa ini
Hal ini kembali menjadi saksi bahwa operator telekomunikasi memiliki andil yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa. Mari kita lihat bersama sejauh mana aplikasi peran yang bisa mereka lakukan agar bangsaIndonesia dapat menjadi bangsa yang besar di dunia dan meraih semua angan, cita dan asa yang hakiki.
Fajar Marendra
Penulis merupakan ketua bidang pendidikan
Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia 2009/2010
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

1 komentar:

  1. Sumber datanya?? :)
    It is our awereness to know that soon. Not all people understand about this. The problem know, the local people in the region/city with limit of knowledge about borders do not care about telecommunication.Pity for us, for INA. So that, it is better if the experts can communicate well untill grassroots :).

    Anyway, I agree if the way to take care people in the borders by providing enough telecommunication infrastructures. What we must prevent is how to make it safe, especially for "HANKAM" points :)

    BalasHapus