LINTANG PUN TAK HARUS BERHENTI SEKOLAH
Oleh: Fajar Marendra
Ibunda guru,
Ayahku meninggal, besok aku akan ke sekolah
Salamku, Lintang
Itulah sepenggal surat yang ditulis oleh Lintang sang anak pesisir, salah satu bagian dari laskar pelangi kumpulan anak-anak pedalaman Belitong yang diceritakan secara apik oleh Andrea Hirata dalam novelnya yang berjudul “Laskar Pelangi”. Terlihat jelas dalam surat yang dia tulis bagaimana keadaan yang menimpanya sehingga dia memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya guna menghidupi adik-adiknya yang masih kecil sepeninggal ayahnya yang tak ada kabar begitu lama setelah bapaknya pamitan untuk mencari ikan di laut.
Itulah siluet kehidupan yang berhasil ditangkap oleh Andrea Hirata yang kemudian diceritakan secara menarik dan menggelitik guna sebuah tujuan mengkritik tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Setidaknya itulah salah satu hal yang bisa saya simpulkan setelah membaca, merenung dan menganalis novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata.
Walau cerita yang diangkat berlatar belakang Belitong, namun cukup untuk memberikan gambaran daerah-daerah pedalaman lain di pelosok Indonesia yang keadaannya sebelas duabelas dengan daerah Belitong bahkan ada yang lebih parah keadaannya bila dibandingkan daerah Belitong. Sebagai seorang yang “peka” terhadap keadaan orang-orang disekitarnya, sudah sepantasnya kita memberikan perharian lebih terhadap nasib orang-orang yang berada di pedalaman khususnya dalam bidang pendidikan.
Keadaan pendidikan di daerah pedalaman bolehlah untuk dikatakan jauh dari ideal, dan sangat berbeda dengan keadaan pendidikan di daerah perkotaan. Permasalahan-permasalahan seperti insfrastruktur yang sudah tak layak huni, fasilitas yang jauh dari istilah lengkap, kekurangan tenaga pengajar, gaji guru yang sering tertunda atau bahkan tak terbayarkan, merupakan makanan setiap hari bagi civitas akademika di daerah pedalaman.
Selain infrastruktur yang banyak yang sudah tidak layak huni, sekolah-sekolah yang didirikan di daerah pedalaman tidaklah sebanyak sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan karena beberapa factor seperti keadaan medan lingkungannya, maupun kultur yang ada didaerah yang dimaksud. Tak jarang sekolah yang ada disana berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah tempat tinggal para siswa sehingga menyebabkan orang tua siswa enggan untuk menyekolahkan putra-putri mereka dengan alasan tempatnya jauh yang tentu saja membuat pengeluaran keluarga akan meningkat untuk membiayai biaya transportasi putra-putri mereka ke sekolah.
Berbagai masalah yang timbul ini bukanlah sebuah hal yang baru bagi kita semua karena hal ini telah diangkat oleh berbagai macam media dan lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah serta sudah menjadi rahasia umum. Jadi bukan sebuah fokusan utama lagi untuk menunjukkan fakta-fakta yang ada tentang pendidikan di daerah pedalaman namun yang lebih utama untuk kita bicarakan dan persiapankan dengan matang ialah peran yang akan kita ambil dalam upaya untuk meminimalisasi masalah pendidikan yang timbul di daerah pedalaman.
Dari tadi dibicarakan mengenai wilayah pedalaman-wilayah pedalaman. Mengapa kita harus memperhatikan wilayah perdalaman ini? Terdapat beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan itu diantaranya ialah: Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki banyak sekali daerah pedalaman baik yang sedikit tersentuh pembangunan maupun belum tersentuh sama sekali. Daerah perbatasan, desa-desa yang berada di tengan hutan dan pegunungan, pulau-pulau kecil yang berserakan di perairan Indonesia merupaka daerah pedalaman yangn dimaksud, daerah pedalaman merupkan daerah yang rawan akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut hal kenegaraan, bila tidak adanya control terhadap daerah ini maka kedaulatan negara ini akan dipertanyakan. Salah satu control efektif yang bisa dilakukan ialah dengan memberdayakan masyarakat pedalaman dengan melengkapi mereka dengan pendidikan yang efektif dan progresif. Dan yang terakhir ialah perhatian yang merata terhadap Warga Negara Indonesia akan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kecenderungan untuk bersama-sama membawa Indonesia menjadi negara yang maju dalam berbagai bidang kehidupan karena kita memiliki potensi yang besar untuk menjadi demikian.
Secara sepintas mungkin penjelasan di atas menunjukkan bahwa semua hal ini berhubungan dengan kenegaraan yang otomatis mengarah pada kewajiban dari satu sosok yaitu Pemerintah. Benar sekali hal itu, ini merupakan kewajiban pemerintah untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang mumpuni sehingga kedepannya mereka bisa berkonstribusi dengan lebih baik lagi. Timbullah pertanyaan mengapa sampai sekarang isu ini masih ada dan berlanjut serta sering dijadikan tema oleh para sineas dalam karya-karya mereka seperti “laskar Pelangi”, “Indonesia Tanah Air Beta”, dll. Kemudian apakah pemerintah tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah ini?
Janganlah kita menyalahkan pemerintah atau berprasangka buruk terhadapnya. Penyelesaian dari masalah ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses yang panjang, berkelanjutan dan bantuan dari semua pihak. Ingat!!!! Bantuan dari semua pihak. Maka disini peran dari bagian-bagian dari negara ini memiliki andil yang besar bagi percepatan proses ini. Kalau dalam reaksi kimia, katalisator dari proses ini adalah peran aktif dari organ-organ negara ini.
Peran dari siapa dan peran seperti apa? Itulah yang akan dibicarakan berikutnya. Salah satu organ negara ini yang memiliki potensi besar untuk membantu percepatan proses ini adalah operator telekomunikasi. Merujuk data Wireless Intelligent, pengguna selular di Indonesia mencapai 116.144.392 orang. Sementara, data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang. Padahal, tingkat kepemilikan komputer hanya 2,5 juta orang. Meski internet juga diakses lewat jasa warnet (Warung internet), namun bisa diasumsikan bahwa dari 25 juta orang itu, jumlah pengguna selular menyumbang jumlah yang tak sedikit. Yang mengejutkan, jauh dari perkiraan Internet World Stats, InMobi memprediksi jumlah pengguna internet selular di Indonesia pada akhir 2010 akan mencapai 146 juta orang. Dengan pangsa pasar yang besar dan pelanggan yang banyak maka operator telekomunikasi memiliki potensi besar untuk mempercepat proses pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat, baik dengan cara memasukkan konten pendidikan dalam setiap produknya atau pengalokasian dana sebagai sebuah tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat khususnya masyarakat pedalama ataupu dengan cara yang lain. Yang perlu diperhatikan disini adalah peran apakah yang akan dipilih oleh operator telekomunikasi guna menjadi katalisator proses pemberdayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat.
Akan dibicarakan dua peran yang bisa dipilih oleh operator telekomunikasi dalam tulisan ini serta satu masukan untuk operator telekomunikasi. Dua peran yang cukup simpel dan sederhana namun bila dijalankan secara serius akan memberikan dampak yang positif untuk percepatan prose pembedayaan masyarakat pedalaman dengan bekal pendidikan yang kuat. Serta masukan yang semoga bisa dipertimbangkan untuk percepatan proses tersebut.
Peran penyandang dana Utama
Peran ini muncul sebagai konsekuensi logis atas keberhasilan operator telekomunikasi di Indonesia mendapatkan pelanggan yang sangat banyak. Hal ini tentu berimbas pada kenaikan benefit yang didapatkan oleh operator telekomunikasi. Sebagai sebuah perusahaan yang telah mendapat keuntungan yang cukup banyak dari bidang usahanya maka sudah sewajarnya untuk memberikan tanggung jawab sosial ke masyarakat selaku konsumen dari usaha mereka.
Peran penyandang dana ini menempatkan Operator Telekomunikasi sebagai lembaga yang menyediakan dana untuk pengembangan pendidikan di daerah pedalaman. Hanya sebatas sebagai lembaga yang punya dana, mengenai jalannya teknis diserahkan kepada pemerintah daerah atau instansi terkait yang berhubungan langsung dengan masyarakat di daerah pedalaman.
Peran ini memiliki kelebihan bagi Operator Telekomunikasi karena dengan menjalankan peran ini Operator Telekomunikasi tidak perlu memikirkan perjalanan jangka panjangnya dari program yang dijalankan karena pelaksana lapangan ialah pemerintah daerah atau instansi terkait. Pihak Operator Telekomunikasi hanya menerima laporan atas pemakaian dana yang telah disalurkan. Butuh rasa saling percaya dalam program ini antara penyandang dana dengan pelaksana lapangan. Selain itu Operator Telekomunikasi memiliki kemudahan terhadap laporan keuangan karena tidak perlu memberikan laporan ke pihak penyndang dana lain.
Ketidaknyamanan dari peran ini adalah ada kemungkinan terjadinya mark up atau ketidakjujuran pengalokasian dana yang disalurkan sehingga menyebabkan tujuan yang ingin dicapai tidak terwujud sesuai target yang ingin diraih.
Untuk asal dana yang disalurkan dalam peran ini merupakan dana perusahaan dari Operator Telekomunikasi sepenuhnya, tidak termasuk dana dari pihak lain. Maka memang dibutuhkan perusahaan yang besar dan kuat untuk menjalankan peran ini.
Peran Penyandang dan pengelola dana
Sedangkan peran yang kedua ini memungkinkan Operator Telekomunikasi untuk mengajak instansi lain menghimpun dana yang dimiliki yang kemudian akan dikelola secara mandiri oleh pihak Operator telekomunikasi guna pengembangan pendidikan di daerah pedalaman.
Operator Telekomunikasi akan mengelola dana yang terkumpul secara mandiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk masyarakat pedalaman namun tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atau pihak yang berwenang di daerah yang dimaksud. Namun peran dari pemerintah daerah atau pihak berwenang di daerah yang dimaksud hanyalah sebagai penghubung antara Operator Telekomunikasi dengan masyarakat.
Keuntungan dari peran ini adalah Operator Telekomunikasi bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat yang merupakan pelanggan mereka, pengawasan aliran dana mudah, pengawasan terhadap kinerja dilapangan bisa dilakukan dengan lebih mudah
Namun peran ini memiliki tantangan yaitu menuntut Operator Telekomunikasi untuk memikirkan dalam jangka panjang program yang akan dilaksanakan dan harus bertanggungjawab kepada penyandang dana yang lain
Berkelanjutan
Sebenarnya peran yang bisa diambil masih banyak, namun penjelasan dalam tulisan ini hanya terfokus pada dua peran ini karena dianggap peran ini yang cukup mudah untuk dilakukan. Namun apapun peran yang akan dipilih harapannya memberikan efek yang berkelanjutan terhadap masyarakat pedalaman, tidak hanya dalam jangka waktu tertentu saja atau temporary.
Program yang dijalankan haruslah program yang berjangka panjang dan berkelanjutan karena pendidikan merupakan suatu proses yang membutuhkan jangka waktu panjang dan pengawasan yang tidak main-main kalau ingin mendapatkan output yang baik.
Konsep sekolah islam terpadu mungkin bisa dijadikan gambaran menangani sebuah program pendidikan yang berkelanjutan, dimana disana para siswa dibentuk dengan kurikulum yang konfrehensif dan menyeluruh mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Untuk sekadar masukkan, Operator Telekomunikasi bisa memulai membuat proyek desa mandiri teknologi informasi dan komunikasi dimana di desa tersebut kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi yang disinergikan dengan dunia pendidikan.
Pemenuhan pendidikan dapat dilakukan mulai dari tingkat dasar (Sekolah Dasar) sampai tingkat perguruan tinggi dengan obyek yang sama tanpa berpindah-pindah pada obyek yang lain. Sehingga bila generasi yang sudah dibentuk ini memiliki kemampuan yang mumpuni mereka dikirim pulang kemabali ke desa mandiri teknologi informasi dan komunikasi yang telah didirikan.
***
Yang ingin disampaikan disini ialah Operator Seluler selaku organ dalam negara ini memiliki peran yang sangat krusial dalam pengembangan pendidikan di daerah pedalaman. Saatnya semua bahu membahu untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan harum di dunia internasional karena ketika bila suatu bangsa memiliki SDM yang handal maka bangsa itu akan menjadi bangsa yang besar. Sumber Daya Manusia yang handal lahir dari pendidikan yang komprehensif dan berkelanjutan. Mari kita dukung usaha pemerintah dan Operator Telekomunikasi untuk memajukan masyarakat pedalaman melalui pendidikan. Kita saksikan aksi dari Operator Telekomunikasi dalam membangun bangsa ini.
Fajar Marendra
Penulis merupakan ketua bidang pendidikan
Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia 2009/2010
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Kamis, 30 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar