Pagi mentari tertegak dalam pembaringan
Berikan harpan setiap insane
Berupa angan dan impian
Anak kurus pun mulai bangun terpejam
Menikmati hidup penuh kejam
Bersilat bergelut bergumul pisau tajam
Mentari coba mengurai kabut
Agar anak kurus tidak tekejut
Tak ingin buat hati jadi kalut
Dan sayangtuk jadi pengecut
Anak kurus membuka mata menatap taja pada dunia
Yang serasa tak adil buat dirinya
Benarkah adanya?
Atau ini hanya akal-akalna manusia
Serakah dan penuh tipu daya
Apa katamu/apa katamu?
By Ren’s
Senin, 08 November 2010
Malam
Malam dingin menyelimuti hati yang selalu tersakiti
Berharap ada yang menemani
Namun nampaknya hanya sekadar mimpi
Nun jauh disana, hawa, sang idaman menanti
Begitu cantik menawan dan mempesona hati
Berbunga hati ini melihat lesung pipit di pipi
Menambah indah bidadari yang selalu kupandangi
Memandang dari kejauhan ya dari kejauhan
Gembira, semngat, pengalaman pertama muncak kau nikmati dengan rasa bak pasukan berani mati
Dan akupun bersenang hati ditiap langkahku
Dengan terusn memandang wajah cantik nan menarikmu
Sungguh sempurna Allah menciptakannya
Adakah dia untukku?mungkinkah????
By Ren’s
Berharap ada yang menemani
Namun nampaknya hanya sekadar mimpi
Nun jauh disana, hawa, sang idaman menanti
Begitu cantik menawan dan mempesona hati
Berbunga hati ini melihat lesung pipit di pipi
Menambah indah bidadari yang selalu kupandangi
Memandang dari kejauhan ya dari kejauhan
Gembira, semngat, pengalaman pertama muncak kau nikmati dengan rasa bak pasukan berani mati
Dan akupun bersenang hati ditiap langkahku
Dengan terusn memandang wajah cantik nan menarikmu
Sungguh sempurna Allah menciptakannya
Adakah dia untukku?mungkinkah????
By Ren’s
Langkah kecil
Melangkah dalam gelap
Tak nampak langkah berderap
Namun hati berdegap-degap
Tak jenak mata menatap
Hati pun terheran-heran
Kaki melangkah semakin pelan
Hati kecil hilang harapan
Tak siap akan perubahan
Pelan dan semakin pelan
Pikiran mulai kalang kabut
Mimpi-mimpi terserabut
Angan telah tercabut
Jatuh dalam lubuk
Tubuh menjadi mabuk
Hati pun remuk
Melangkah dalam gelap, tak nampak langkah berderap
Hati berdegap-degap, tak jenak mata menatap.
Tak nampak langkah berderap
Namun hati berdegap-degap
Tak jenak mata menatap
Hati pun terheran-heran
Kaki melangkah semakin pelan
Hati kecil hilang harapan
Tak siap akan perubahan
Pelan dan semakin pelan
Pikiran mulai kalang kabut
Mimpi-mimpi terserabut
Angan telah tercabut
Jatuh dalam lubuk
Tubuh menjadi mabuk
Hati pun remuk
Melangkah dalam gelap, tak nampak langkah berderap
Hati berdegap-degap, tak jenak mata menatap.
Dihari ini
Senja mulai menggelayuti malam
Dan malam semakin kelam
Tubuh ini semakin tenggelam dalam lelah capek tak tertahan dalam
Dan malam semakin kelam
Tubuh ini semakin tenggelam dalam lelah capek tak tertahan dalam
Lelah Capek
Keringat berbulir-bulir menggelinding
Panas menyengat bersangat-sangat
Remuh tubuh hancur dan rapuh
Seharian beban berbeban-beban
Tak pernah berhenti tuk semedi
Gelora-gelora jiwa raga dan usaha
Pentang menyerah tak katakan kalah
Ekonomi, bisnis, politik dibiki tak berkutik
Tunduk takluk
Oleh jiwa energik
Meeting, rapat, syuro dilalui sampai satu suro
Tet……tet…..tet……teeeeeeeeeeeet…….teeet.tet………tet……tet
Message datang penggilan mengundang
Mohon kehadirannyadalam rapat
Persiapan pernikahan sapai di kandang sapi jam 15.00
Tepat Urgen Amniyah
Lari-lari berlari berputar berjalan
Namun sayang hanya ini yang tersisa
Panas menyengat bersangat-sangat
Remuh tubuh hancur dan rapuh
Seharian beban berbeban-beban
Tak pernah berhenti tuk semedi
Gelora-gelora jiwa raga dan usaha
Pentang menyerah tak katakan kalah
Ekonomi, bisnis, politik dibiki tak berkutik
Tunduk takluk
Oleh jiwa energik
Meeting, rapat, syuro dilalui sampai satu suro
Tet……tet…..tet……teeeeeeeeeeeet…….teeet.tet………tet……tet
Message datang penggilan mengundang
Mohon kehadirannyadalam rapat
Persiapan pernikahan sapai di kandang sapi jam 15.00
Tepat Urgen Amniyah
Lari-lari berlari berputar berjalan
Namun sayang hanya ini yang tersisa
Aliran Dingin
Merayap pelan dalam senyap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Gadis kecil berselimut dan meratap
Tersengal-sengal hirupan oksigen Seakan udara hanya nitrogen
Sungguh dingin beraksi laksana hydrogen
Tak sehangat panasnya kursi presiden
Gemeratuk tuk….tuk…tuk…. susunan rapi
Sampai terbawa dalam mimpi
Mimpi tak bertepi angan dan imajinasi Bukan seperti politisi negeri
Segumpal daging penuh ambisi dan emosi
Menarik sedikit kain sang gadis
Kain menutup kaki pun membuka kepala
Menutup kepala kain membuka kaki
Tak tergubris kawan tak tergubris
Tenang tidak diangkut masuk teralis Dalam dunia sadis dan bengis
Gadis kecil berselimut dan meratap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Merayap pelan dalam senyap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Gadis kecil berselimut dan meratap
Tersengal-sengal hirupan oksigen Seakan udara hanya nitrogen
Sungguh dingin beraksi laksana hydrogen
Tak sehangat panasnya kursi presiden
Gemeratuk tuk….tuk…tuk…. susunan rapi
Sampai terbawa dalam mimpi
Mimpi tak bertepi angan dan imajinasi Bukan seperti politisi negeri
Segumpal daging penuh ambisi dan emosi
Menarik sedikit kain sang gadis
Kain menutup kaki pun membuka kepala
Menutup kepala kain membuka kaki
Tak tergubris kawan tak tergubris
Tenang tidak diangkut masuk teralis Dalam dunia sadis dan bengis
Gadis kecil berselimut dan meratap
Terbelenggu dalam kabut dan asap
Merayap pelan dalam senyap
gelapnya malam
Gelapnya malam tak segelap hatiku
Andai kau tahu itu kawan
Merahnya wajahku tak semerah hatiku
Andai kau tahu itu teman
Dan andai kau tahu kawan
Aku pun muak saat harus mengakui itu
Karena kawan Karena kawan
Berarti aku telah bongkar rahasia pribadi
Maka kawan maka kawan
Bersiaplah kau mati ditanganku
Camkan kata-kataku
Lihatlah kawan lihatlah teman
Betapa egonya aku
Siapa yang salah siapa yang aak aku bunuh
Lihatlah egoku kawan
Kau tak salah kawan
Tak pantas kau tuk ku bunuh
Hanya aku yang harus membunuhku
Andai kau tahu itu kawan
Merahnya wajahku tak semerah hatiku
Andai kau tahu itu teman
Dan andai kau tahu kawan
Aku pun muak saat harus mengakui itu
Karena kawan Karena kawan
Berarti aku telah bongkar rahasia pribadi
Maka kawan maka kawan
Bersiaplah kau mati ditanganku
Camkan kata-kataku
Lihatlah kawan lihatlah teman
Betapa egonya aku
Siapa yang salah siapa yang aak aku bunuh
Lihatlah egoku kawan
Kau tak salah kawan
Tak pantas kau tuk ku bunuh
Hanya aku yang harus membunuhku
Langganan:
Postingan (Atom)